Heru Nurcahyo Ubah Bawang Merah Jadi Minyak Gosok Aromaterapi

0

Bawang merah sejak zaman dahulu sudah banyak dimanfaatkan sebagai campuran ramuan tradisional. Namun, di tangan seorang dosen Politeknik Harapan Bersama (PHB) Tegal, bawang merah disulap menjadi minyak gosok, aromaterapi.

Minyak gosok dari ekstrak bawang merah, merupakan hasil penelitian yang diketuai oleh Heru Nurcahyo SFarm MSc Apt, dengan anggota tim peneliti Tri Indah Galeri dan Purgiyanti.

Heru sengaja memanfaatkan bawang merah untuk membuat minyak gosok karena berdasarkan pengalaman, selain sebagai bumbu masak, orang tua sering menggunakan bawang merah untuk membuat ramuan obat tradisional.

Untuk membuat sebuah minyak gosok dari bawang merah, setidaknya dibutuhkan sekitar 500-700 gram bawang merah. Bawang merah yang digunakan harus sudah tua, biasanya yang untuk bibit. Hal ini dilakukan karena kandungan minyak atsirinya paling tinggi pada bawang merah yang sudah tua.

Heru Nurcahyo yang merupakan lulusan Universitas Gajah Mada itu melanjutkan, pada proses pembuatannya, bawang merah yang sudah disiapkan, kemudian dipanaskan terlebih dahulu sekitar 3-5 jam, sehingga terjadi sirkulasi. Ini bertujuan untuk memisahkan minyak atsiri dengan air yang terkandung pada bawang merah.

Minyak atsiri yang dihasilkan dari formula tersebut, rata-rata menghasilkan 10 miligram. Kemudian, dimurnikan dengan bantuan bahan kimia, serta dikombinasikan dengan zat tambahan seperti Camphor, Mentol, Olive Virgine Oil, dan Minyak kelapa. Dengan demikian, bisa menjadi aromaterapi.

Setelah itu, dilakukan pengujian sifat fisik, baik derajat kesamaan (pH), bau, rasa dan warna, serta stabilitas agar aman dan layak digunakan.

“Kemarin, saya masuk angin, dan mencoba minyak gosok tersebut untuk digosokkan ke leher. Alhamdulillah, besoknya sehat kembali,” ujar Heru.

Heru menambahkan, selain untuk mengatasi masuk angin, minyak gosok dari bawang merah itu juga bisa untuk mengatasi mual-mual dan keseleo. Pada Juni 2016 lalu, minyak gosok hasil penelitiannya yang ia beri nama “Friend Care” tersebut sudah diajukan hak patennya ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.

“Ke depan, kami merencanakan pengajuan produksi, kemudian membuat industri kecil untuk usaha bersama. Ini juga untuk memacu mahasiswa berwirausaha,” imbuh Heru.

Loading...