Kendala Pertanian Organik dan Mengatasinya

0

Beberapa perusahaan pertanian organik murni (organic farming) masih belum bisa berjalan normal. Terkadang hanya muncul dipermukaan selama beberapa tahun, kemudian menghilang karena masih banyaknya kendala dilapangan.

Beberapa kendala tersebut dan langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya seperti berikut.

1. Pupuk organik masih sebagai pendamping pupuk kimia

Saat ini fungsi pupuk organik di Indonesia masih sebagai pendamping pupuk kimia, karena adanya target produksi (ton/ha). Masih adanya pendapat bahwa tanaman yang hanya dipupuk organik sering mengalami defisiensi unsur hara karena kandungan unsur hara yang diberikan tidak sebanding dengan kebutuhan tanaman, ditambah lagi pelepasan unsur haranya lambat.

Padahal efek pemupukan organik pada pertumbuhan tanaman cukup menakjubkan. Dari hasil yang dilaporkan di Amerika, efek pemberian pupuk organik sebanyak 14 ton tiap tahun pada satuan luas tanah selama 8 tahun masih terasa 40 tahun sesudah pemberian pupuk yang terakhir.

Hal ini harus menjadi perhatian bahwa ternyata pupuk organik memegang peranan dalam pembentukkan zat hara dalam tanah. Untuk saat ini, penggunaan pupuk organik sebagai pendamping pupuk kimia diharapkan sebagai tahap awal yang perlu digalakkan untuk menuju pertanian organik di masa yang akan datang.

2. Pengendalian OPT secara hayati dianggap mahal

Pengendalian OPT dalam pertanian organik harus dilakukan secara hayati, yaitu dengan cara mekanik, musuh alami, atau penggunaan bioinsektisida. Namun cara-cara ini selain dianggap mahal, juga belum memberikan hasil memuaskan seperti pada penggunaan pestisida kimia.

Untuk itu, sebagai tahap awal menuju pertanian organik adalah pengendalian hama terpadu (PHT) dengan memberlakukan ambang batas ekonomi sebagai acuan penggunaan pestisida dalam mengendalikan serangan hama/penyakit.

3. Lingkungan areal penanaman yang tidak terisolasi

Penanaman tanaman organik pada lahan yang tidak terisolasi dengan lahan non-organik (memakai pestisida) akan menjadi sasaran inang hama/penyakit. Untuk itu, diperlukan sosialisasi dan penyampaian informasi yang lebih intensif, baik dalam bentuk penyuluhan maupun pelatihan kepada pelaku agribisnis akan pentingnya kebersamaan untuk menuju pertanian organik.

4. Hasil produksi lebih sedikit

Hasil produksi pertanian organik masih dibawah rata-rata penggunaan bahan kimia. Selain itu, produk organik biasanya diklaim berpenampilan kurang menarik, seperti banyaknya lubang pada daun. Padahal hasil pertanian organik sekarang ini memiliki penampilan yang bagus, terlihat segar dan sehat.

5. Harga produk organik dianggap lebih mahal

Saat ini produk organik masih dianggap produk eksklusif, karena harganya yang relatif lebih mahal, walaupun produk organik menjanjikan kesehatan jangka panjang. Produk organik juga belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat, sehingga hal tersebut diperlukan percontohan-percontohan budidaya sistem organik yang efisien dan ekonomis dengan hasil produksi bisa mengimbangi pertanian anorganik.

Dengan biaya produksi yang tidak melambung tinggi, tentunya harga produk lebih murah, sehingga dapat dijangkau semua lapisan masyarakat.

6. Penyampaian informasi masih terbatas

Informasi terbaru mengenai perkembangan pertanian organik perlu disebarkan, terutama teknik budidaya dan pengendalian OPT. Instansi terkait seperti penyuluh lapangan sebagi sumber informasi, penghubung, dan pendamping petani mempunyai potensi yang cukup besar dalam meberikan gaung.

Pendekatan kepada petani harus terus dilakukan, terutama mengenai penggunaan pupuk kimia, yaitu sebaiknya diselingi atau didampingi dengan pupuk organik untuk efesiensi penggunaan pupuk kimia dan menjaga kesuburan tanah.

7. Peraturan belum ada

Untuk kepentingan umum, khususnya konsumen, pemerintah mempunyai wewenang mengatur dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah dampak negatif pemakaian sarana produksi dari bahan sintetik (kimia) jangka panjang.

Diperlukan usaha peningkatan kesadaran dan pengertian masyarakat serta para perencana dan pengambil kebijakan tentang peranan pupuk organik dalam pertanian yangg berkelanjutan.

Dengan langkah-langkah tersebut diharapkan dimasa yang akan datang setelah tingkat kesuburan tanah dan lingkungan optimal, maka produksi organik dapat dilakukan secara massal dengan skala besar.

Baca : Mengapa Menggunakan Pupuk Organik?

Dibutuhkan kesabaran dan waktu yang cukup lama untuk mewujudkan pertanian organik. Sebagai contoh, India dan Filipina membutuhkan waktu sekitar 22 tahun pemupukan organik terus-menerus pada lahan padi untuk menghasilkan produksi padi yang standar.

Loading...