Membuat Asap Cair Sebagai Bio Pestisida Pengendali Hama Ulat Grayak

0

Hama utama yang biasa menyerang tanaman kedelai yaitu ulat grayak dan penggerek polong. Biasanya hama tersebut menyerang tanaman kedelai pada masa berkecambah hingga panen. Hingga saat ini, kebanyakan petani masih mengandalkan insektsida kimia untuk pengendalian hama ini, karena hasilnya cepat dirasakan.

Namun, pemakaian insektisida kimia secara terus-menerus dengan pengaplikasian yang tidak tepat dapat menimbulkan resistensi dan resurgensi hama. Ditambah lagi bahan kimia juga berdampak negatif terhadap lingkungan.

Melihat dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari penggunaan insektisida kimia, maka perlu mencari alternatif lain yang lebih ramah limgungan. Salah satunya yaitu pemanfaatan insektisida alami atau bio pestisida yang berdasarkan penelitian dinilai efektif membasmi hama ulat grayak.

Bio pestisida ini berupa “asap cair” hasil pengembangan dan pemanfaatan sumber daya lokal yang efektif, murah, mudah dan tentunya aman bagi tanaman, manusia maupun lingkungan.

Hasil kajian Rumbaina dkk (2015) menunjukkan bahwa penggunaan bio pestisida “asap cair” berpotensi dan efektif mengendalikan hama ulat grayak dan penggerek polong, khususnya pada tanaman kedelai dengan sifatnya yang menolak (“repellent”) bukan membunuh.

Bahan-bahan untuk membuat bio pestisida “asap cair” ini mudah sekali didapat, diantaranya yaitu Sekam padi, Tempurung kelapa, Limbah kayu dan lain sebagianya.

Semua bahan-bahan tersebut berpotensi mengendalikan hama ulat grayak dan penggerek polong pada tanaman kedelai. Namun, bahan baku terbaik untuk mengatasi masalah hama pada tanaman kedelai yaitu tempurung kelapa dengan konsentrasi 75 ml/lt-105 ml/lt.

Lalu bagaimana pembuatannya?

Proses pembuatan bio prestisida asap cair adalah sebagai berikut:

Proses pembuatan Asap Cair
  • Tempurung kelapa, sekam padi dan limbah kayu, masing-masing dibersihkan dan dikering anginkan. Untuk tempurung kelapa terlebih dulu diperkecil ukurannya dengan cara dipecah-pecah.
  • Masing-masing bahan sebagian dimasukkan ke wadah drum (tanur) sebagai tungku “pyrolisis”, kemudian dinyalakan.
  • Setelah api membara dan berasap, sisa masing-masing bahan dimasukkan kedalam drum terpisah, kemudian ditutup rapat untuk dilakukan proses pirolisa.
  • Proses pirolisa ini memakan waktu yang cukup lama. Pertama-tama asap akan keluar dari wadah dan masuk ke kondensor yang terendam dalam bak air (terkondensasi), dari situ akan dihasilkan cairan hasil kondensasi yang ditampung dalam wadah.
  • Pemanasan diakhiri ketika sudah tidak keluar asap cair yang menetes dalam wadah. Cairan yang diperoleh merupakan campuran heterogen antara asap cair dengan tar. Tar merupakan senyawa yang beredar dalam asap hasil pembakaran. Bentuk asli tar adalah cairan yang warnanya kecokelatan. Kebanyakan tar dihasilkan dari batubara. Namun, bisa juga dari minyak bumi, gambut, dan kayu.
  • Cairan ini kemudian didiamkan selama satu minggu untuk memberikan kesempatan tar dan senyawa tidak larut lainnya mengendap, kemudian disaring.

Pengaplikasi Bio Pestisida “Asap Cair”

  • Konsentrasi asap cair yang digunakan adalah 75 ml/lt – 105 ml/lt dengan volume semprot 400 l/ha.
  • Penyemprotan dilakukan pada waktu pagi hari, sebanyak 6 kali aplikasi selama pertumbuhan yaitu pada umur 7 HST, 14 HST, 28 HST, 42 HST, 56 HST dan 70 HST.

Baca : Insetisida Nabati dari Daun Mimba, Pengendalian Hama Pada Tanaman Kangkung Organik

Demikianlah informasi Membuat Asap Cair Sebagai Bio Pestisida Pengendali Hama Ulat Grayak, semoga bermanfaat bagi Anda. Segala macam kritik, saran, dan pertanyaan bisa disampaikan via email di tim.unsurtani@gmail.com atau melalui kolom komentar. Terima kasih sudah mampir di unsurtani.com.

Loading...