Mengenal Budidaya Padi Salibu (Sekali Tanam Panen Berkali-kali)

0

Salibu merupakan kependekkan dari “Sekali Tanam, Panen Berkali-kali”. Padi Salibu merupakan tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen dipangkas. Tunas baru akan tumbuh dan akan memiliki akar baru, sehingga suplai unsur hara tidak lagi bergantung pada batang lama.

Tunas ini bisa membelah atau bertunas lagi, inilah yang membuat pertumbuhan dan produksinya sama atau lebih tinggi dibanding tanaman pertama (induknya).

Padi salibu berbeda dengan padi ratun, ratun sendiri merupakan padi yang tumbuh dari batang sisa panen tanpa dilakukan pemangkasan batang, tunas akan muncul pada buku paling atas, suplai hara tetap dari batang lama.

KELEBIHAN PADI SALIBU

Beberapa keuntungan yang bisa Anda peroleh dari penerapan budidaya padi salibu ini diantaranya: hemat biaya, tenaga kerja, dan waktu, karena padi salibu tidak dilakukan pengolahan tanah dan penanaman ulang (Erdiman, 2013).

Budidaya padi salibu dapat meningkatkan produktivitas padi per unit area dan per unit waktu, dan meningkatkan indeks panen 2-3 kali panen dalam setahun.

Jika dibandingkan dengan teknologi ratun konvensional, dengan salibu mampu menghasilkan jumlah anakan padi yang lebih banyak dan seragam, serta produktivitasnya bisa sama bahkan lebih tinggi dari tanaman utamanya.

Penerapan budidaya padi salibu dengan memanfaatkan varietas berdaya hasil tinggi, tentu akan lebih menggairahkan aktivitas usaha tani, karena dapat diperoleh tambahan hasil yang sangat nyata (Erdiman, 2015 komunikasi pribadi).

Beberapa verietas padi yang sudah dikaji dan ditanam dengan sistem salibu di beberapa lokasi mampu berproduksi dengan baik, beberapa varietas tersebut adalah Logawa, Inpari 19, Inoari 21, Cisokan, Batang Piaman dan lain-lain.

Beberapa varietas padi hibrida dan padi tipe baru seperti Rokan, Cimelati, Hipa 3, Hipa 4, dan Hipa 5 menurut Susilawati et al. (2011) terbukti bisa menghasilkan ratun dengan baik, yang diyakini juga mampu menghasilkan tanaman salibu dengan baik.

Berdasarkan hasil pengamatan Erdiman (2014), budidaya padi salibu mampu berproduksi sama atau lebih tinggi dibandingkan tanaman utamanya, rata-rata umur padi salibu bisa sama atau lebih pendek dari tanaman utamanya.

Secara umum budidaya padi salibu dapat dilakukan pada berbagai agroekosistem dan ketinggian tempat (dari rendah sampai 1.100 m dpl), seperti lahan irigasi desa yang sistem pengairannya diusahakan secara swadaya oleh kelompok tani, di lahan tadah hujan dan pasang surut.

Persyaratan utama yang harus dipenuhi pada budidaya padi salibu antara lain :

  • Bukan daerah endemik OPT khususnya penyakit busuk batang, hawar, tungro, daun bakteri, keong mas, dan lain-lain,
  • Ketersediaan air cukup dan pengairan mudah dikondisikan,
  • Tidak terjadi genangan dan kekeringan yang lama,
  • Kondisi lahan dengan drainase baik, dan
  • Kondisi air tanah pada saat 2 minggu sebelum dan setelah panen sebaiknya pada kondisi kapasitas lapang (lembab).

Tunas padi salibu akan tumbuh jauh lebih baik jika kondisi tanah lembab (tidak tergenang). Di wilayah dengan sistem tanam serempak, pengembangan salibu disarankan pada suatu lahan dengan luas minimal 25 ha untuk mengurangi serangan OPT.

Teknik budidaya padi salibu pada berbagai lahan tersebut harus memenuhi standar sebagai berikut :

1. Lahan Irigasi Desa

  • Kondisi lahan harus subur dengan sistem pengairan yang baik dan mudah dikendalikan secara swadaya oleh kelompok tani.
  • Jika ketika panen kondisi tanah kurang basah, maka segera aliri lahan dengan air setelah dilakukan panen tanaman padi utama, yang menyisakan tunggul tanaman setinggi 25 cm dari permukaan tanah, untuk mencapai kondisi lahan lembab.
  • Tunggul sisa panen dibiarkan selama 7 hingga 10 hari setelah panen atau hingga keluar tunas baru. Apabila tunas yang keluar kurang dari 70% dari populasi, maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya padi salibu.
  • Jika tunas padi yang tumbuh lebih dari 70% dari populasi , maka lakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah. Perombakan sisa jerami bekas potongan tunggul padi gunakan dekomposer.

2. Lahan Tadah Hujan

  • Sebelum menanam padi utama dilakukan pengolahan tanah secara sempurna, disertai pemberian pupuk organik sekitar 2-5 ton/ha.
  • Ketika panen tanaman padi utama, usahakan kondisi lahan tidak terlalu kering, jika kering maka segera lakukan pengairan setelah panen dengan ketinggian 2-5 cm untuk mencapai kondisi lahan lembab.
  • Sisa pemotongan batang padi utama sebaiknya diletakkan di sekitar tanaman (sebagai mulsa) untuk menjaga kelembaban tanah.
  • Tunggul sisa panen dibiarkan selama 7 hingga 10 hari setelah panen atau hingga keluar tunas baru. Apabila tunas padi yang keluar kurang dari 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya padi salibu.
  • Jika tunas padi yang tumbuh lebih dari 70% dari populasi , maka lakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah. Perombakan sisa jerami bekas potongan tunggul padi gunakan dekomposer.

3. Lahan Pasang Surut

  • Teknologi budidaya padi salibudi pada lahan pasang surut harus dilakukan kajian terlebih dahulu dan sebaiknya dipilih lokasi mana yang memiliki tipe luapan A ke B yang tidak tergenangi air ketika air pasang.
  • Sistem budidaya padi sistem ratun di lahan pasang surut selama ini banyak dilakukan pada musim tanam periode Oktober-Maret, dan diasumsikan bahwa sistem budidaya salibu juga dapat dilakukan.
  • Tunggul sisa panen dibiarkan selama 7 hingga 10 hari setelah panen atau hingga keluar tunas baru. Apabila tunas padi yang keluar kurang dari 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya padi salibu.
  • Jika tunas padi yang tumbuh lebih dari 70% dari populasi , maka lakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah. Perombakan sisa jerami bekas potongan tunggul padi gunakan dekomposer.

Demikianlah informasi Mengenal Budidaya Padi Salibu (Sekali Tanam Panen Berkali-kali), semoga bermanfaat bagi Anda. Segala macam kritik, saran, dan pertanyaan bisa disampaikan via email di tim.unsurtani@gmail.com atau melalui kolom komentar. Terima kasih sudah mampir di unsurtani.com.

Loading...