Pengelolaan Lahan Untuk Budidaya Sayuran Organik

0

Pengelolaan lahan dengan budidaya pertanian organik merupakan salah satu alternatif strategis mempertahankan kesuburan tanah dan sumber daya lahan berwawasan lingkungan.

Adanya trend masyarakat dunia untuk kembali ke alam (back to nature) telah menyebabkan permintaan produk pertanian organik di seluruh dunia tumbuh pesat sekitar 20% per tahun.

Untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil produk organik yang dapat mengisi pasar dunia, Departemen Pertanian sudah mencanangkan program Go Organik pada 2010 silam.

Apa itu Pertanian Organik?

Pertanian organik adalah sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan.

Apa saja Komponen Pendukung Pertanian Organik?

Lahan yang digunakan untuk produksi pertanian organik harus bebas dari cemaran bahan agrokimia dari pupuk dan pestisida. Terdapat dua pilihan lahan, 1) Lahan pertanian yang baru dibuka atau 2) Lahan pertanian intensif yang telah dikonversi menjadi lahan pertanian organik. Lama masa konversi tergantung sejarah penggunaan lahan, pupuk, pestisida, dan jenis tanaman.

  • Menghindari benih/bibit hasil rekayasa genetika atau genetically modified organism (GMO). Sebaiknya benih berasal dari kebun pertanian organik.
  • Menghindari penggunaan pupuk kimia sintesis dan zat pengatur tumbuh. Peningkatan kesuburan tanah dilakukan melalui pemanfaatan bahan pupuk organik, sisa tanaman, pupuk alam, dan rotasi dengan tanaman legume.
  • Pengendalian hama, penyakit, dan gulma dilakukan dengan cara manual, biologis, dan rotasi tanaman.
  • Penanganan pasca panen dan pengawetan bahan pangan menggunakan cara-cara yang alami.

Baca : Nutrisi Tanaman Hidroponik Yang Wajib Diberikan Ke Tanaman

Pengelolaan Kesuburan Tanah

Kebutuhan hara tanaman, dan peningkatan kesuburan tanah dilakukan dengan optimal melalui daur ulang hara tanaman secara alamiah dengan mengandalkan perbaikan kesuburan biologis, fisik, dan kimia tanah dengan prinsip:

  • Mengembalikan hara makro dan mikro yang terangkut panen dengan menambahkan produk organik dan sisa tanaman dari berbagai sumber secara periodik ke dalam tanah, baik dalam bentuk segar atau kompos.
  • Menambahkan tanaman legume yang dapat mengikat nitrogen bebas di udara berkat adanya bakteri Rhizobium yang berada dalam nodul akar tanaman. Tanaman legume ditata sebagai tanaman pagar (hedgerow) atau tanaman penutup tanah bersama tanaman utama secara multikultur atau rotasi.
  • Menanam tanaman pagar atau tanaman inang yang berfungsi sebagai predator hama.
  • Mengintegrasikan ternak ayam, kambing, atau sapi dalam kebun organik, kotorannya digunakan sebagai pupuk, dan daging ternak dapat dipasarkan sebagai produk daging organik.
  • Menambahkan bahan amelorin alami seperti kapur dan bahan fosfat alam bila terjadi kahat hara Ca dan P pada tanah yang tidak dapat diatasi dengan penambahan pupuk organik saja (bahan-bahan ameloran yang diizinkan terdapat dalam SNI 01-6729-2002).
  • Menyediakan air yang cukup dan bebas kontaminasi bahan agrokimia.

Pupuk Organik

Pupuk organik untuk budidaya pertanian organik dianjurkan berasal dari bahan-bahan organik seperti pangkas tanaman, serasah sisa tanaman, tanaman legume, sampah organik pasar, dan kotoran ternak yang dikomposkan. Kotoran ternak yang digunakan tidak boleh berasal dari ternak yang dikelola dalam factory farming.

Budidaya Sayuran Organik

Tanaman ditanam pada bedengan berukuran 1 x (8-10) m dan tinggi 5-10 cm, sesuai dengan ketersediaan lahan dilapangan dan jenis sayuran yang akan ditanam.

  • Menanam strip rumput di sekeliling bedengan untuk mengawetkan tanah dari erosi dan aliran permukaan.
  • Mengatur dan memilih jenis tanaman sayuran dan legume yang sesuai untuk sistem tumpang sari atau multikultur seperti bawang daun dengan kacang tanah.
  • Mengatur rotasi tanaman sayuran dengan tanaman legume dalam setiap musim tanam.
  • Mengembalikan sisa panen atau serasah tanaman ke dalam tanahdalam bentuk segar atau kompos.
  • Memberikan pupuk organik yang bervariasi (pupuk hijau, pupuk kandang, dan lainnya), sehingga semua unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman cukup tersedia.
  • Menanam tanaman yang berfungsi untuk pengendalian hama dan penyakit seperti kenikir, kemangi, terphrosia, lavender, dan mimba di antara bedengan tanaman sayuran.
  • Menjaga kebersihan area pertanaman.

Sumber : Balai Penelitian Tanah

Loading...