Panduan Teknik Produksi Benih Singkong (Benih Ubi Kayu)

0

Dalam produksi benih singkong atau ubi kayu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah penentuan lokasi dan penyiapan benih sumber.

Kondisi lingkungan tumbuh sangat menentukan mutu benih yang dihasilkan. Benih yang mempunyai mutu genetik dan mutu fisiologis yang tinggi hanya dapat dihasilkan dari pertanaman di lingkungan yang tepat.

Oleh karena itu, lahan yang akan digunakan hendaknya beririgasi teknis dengan pengairan yang terkontrol. Selain itu, perlu diperhatikan bahwa lahan tersebut bukan bekas pertanaman kacang tanah varietas lain atau kelas benih yang lain. Sebaiknya digunakan lahan yang sebelumnya ditanami komoditas lain atau bera.

Di samping itu, perlu pula dipertimbangkan kemudahan akses transportasi menuju lokasi, karena proses produksi memerlukan pengelolaan dan pengawasan intensif, termasuk oleh pihak BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi benih).

Penyiapan Benih Sumber

Asal-usul benih yang akan ditanam sangat penting diperhatikan agar dapat menjamin keaslian genetik dari benih yang akan dihasilkan. Benih sumber yang ditanam harus satu kelas lebih tinggi dari kelas benih yang akan diproduksi. Sebagai contoh, untuk memproduksi benih kelas BD (Benih Dasar), maka yang harus ditanam adalah benih kelas BS (Benih Penjenis); untuk memproduksi benih kelas BP (Benih Pokok) harus berasal dari benih kelas BD.

Pemeriksaan benih sumber harus dilakukan sebelum benih ditanam, yang mencakup sertifikat/label yang berisi informasi: asal benih, nama produsen, varietas, tanggal selesai uji dan tanggal kadaluarsa, dan mutu benih (daya kecambah, kadar air, dan kemurnian fisik).

PRODUKSI BENIH SUMBER UBIKAYU

1. Pemilihan Lokasi

  • Tanah gembur, rata dan subur.
  • Bukan endemik hama atau penyakit.
  • Aman dari gangguan ternak dan pencurian.
  • Bukan merupakan lahan bekas pertanaman ubi kayu.

2. Penyiapan Lahan

  • Lahan dibersihkan dari tanaman terdahulu, rumput atau gulma.
  • Pengolahan tanah didasarkan pada jenis tanah:
  • Tanah ringan/gembur cukup dibajak atau dicangkul satu kali, kemudian diratakan dan dapat langsung ditanami.
  • Tanah agak berat : dibajak atau dicangkul 1-2 kali, kemudian diratakan dan dibuat guludan, untuk selanjutnya ditanami.
  • Tanah berat dan berair : dibajak atau dicangkul sebanyak 2 kali atau lebih, kemudian dibuat guludan sekaligus sebagai saluran drainase, siap ditanami.
  • Untuk lahan miring, pengolahan tanah harus dikelola dengan sistem konservasi, yaitu: tanpa olah tanah, olah tanah minimal (pengolahan tanah secara larikan atau individual, pengolahan tanah sempurna dengan sistem guludan kontur, tanah dibajak dengan traktor 3-7 singkal piring, atau dibajak dengan ternak sapi sebanyak 1-2 kali diikuti dengan pembuatan guludan yang searah dengan kontur.
  • Dilakukan pengairan segera setelah tanam.

3. Penyiapan Bibit/Stek

  • Stek diambil dari bagian tengah batang tanaman ubi kayu yang berumur 8-12 bulan.
  • Stek diambil dari tanaman yang sehat terbebas dari serangan hama dan penyakit. • Ukuran panjang stek 20-25 cm, dengan diameter stek ±2 cm.
  • Stek dipotong dengan menggunakan pisau/gergaji yang tajam untuk menghindari terjadinya kerusakan pada mata tunas maupun kulit batang.
  • Sebelum tanam, stek direndam dalam larutan fungisida dan insektisida untuk mencegah serangan penyakit/hama, selama 5-10 menit.

4. Tanam

  • Stek ditanam dengan posisi tegak, 2/3 bagian stek masuk ke dalam tanah.
  • Tanam dilakukan pada jarak 100 cm antar baris dan 75-80 cm dalam baris.
  • Setiap lubang tanam berisi 1 stek.
  • Kebutuhan stek per hektar 12.500-13.333 stek.

5. Pemupukan

  • Pupuk kandang diberikan pada saat pembuatan guludan, dengan dosis 5-10 t/ha.
  • Pupuk dasar diberikan pada saat tanam, dengan cara ditugal pada jarak 10-15 cm dari pangkal batang, dosis 45 kg N + 36 kg P2O5 + 30 kg K2O/ha.
  • Pupuk susulan diberikan pada 3 bulan setelah tanam, dengan cara ditugal pada jarak 10-15 cm dari pangkal batang, dosis 45 kg N + 30 kg K2O/ha.

6. Pemeliharaan

  • Penyiangan minimal dua kali, yaitu pada umur 1 bulan dan 3 bulan setelah tanam.
  • Pembumbunan dilakukan 2 kali, yaitu pada umur 1 bulan dan 3 bulan setelah tanam.
  • Pengurangan tunas dilakukan pada umur 3 bulan dengan menyisakan 2 tunas yang pertumbuhannya normal.
  • Jika kandungan air tanah terbatas, pengairan dilakukan hingga tanaman berumur 4-5 bulan, dengan interval 1 bulan sekali.
  • Pengendalian hama dilakukan secara intensif, baik secara kimiawi maupun mekanis, sejak awal pertumbuhan hingga umur 5 bulan.
  • Pengendalian dilakukan secara berkala (setiap 10–14 hari) dan secara tepat (jenis insektisida, dosis dan waktu).

7. Roguing (Membuang tipe simpang)

  • Pemeliharaan mutu genetik dilakukan di lapangan dengan membuang tipe simpang (Roguing). Dilakukan pada fase pertumbuhan awal, untuk mengetahui daya tumbuhnya pada umur 30 hari. Dilakukan dari tanaman ke tanaman secara sistematik untuk mengetahui ada tidaknya bibit yang tidak tumbuh.
  • Roguing ke dua dilakukan pada umur 3-4 bulan setelah tanam. Karakter yang diamati warna kuncup daun dan tangkai daun sebagai indikator utama roguing. Jika didapatkan keraguan atas penggunaan indikator utama tersebut, digunakan indikator morfologi lain untuk identifikasi campuran varietas lain, berupa bentuk daun, warna tulang daun dan bentuk tanaman secara keseluruhan. Dilakukan pencabutan terhadap tanaman yang dianggap menyimpang dari deskripsi varietas yang benar.
  • Pemeriksaan lapang terakhir pada fase menjelang panen. Karakter yang diamati adalah warna batang, warna tangkai daun, warna kuncup daun, bentuk daun, warna tulang daun, warna kulit luar umbi, warna kulit dalam umbi, warna daging umbi dan rasa umbi sebagai indikator pemeriksaaan lapang. Tanaman yang dianggap menyimpang dari deskripsi varietas yang benar harus dibuang.

8. Panen, sortasi dan penyimpanan

  • Panen stek dilakukan mulai umur 8 bulan sampai 12 bulan.
  • Panen stek dilakukan terhadap tanaman yang sehat, dengan diameter batang ±2 cm.
  • Penyimpanan stek dapat dilakukan dalam bentuk batang (belum dipotong menjadi stek).
  • Penyimpanan dilakukan di tempat teduh, dengan cara diberdirikan dengan posisi pangkal batang di atas.
  • Penyimpanan dapat dilakukan selama 30 hari.

Demikian informasi tentang Panduan Teknik Produksi Benih Singkong (Benih Ubi Kayu), semoga bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Kritik dan saran, serta penambahan informasi sangat kami harapkan, silahkan hubungi kami via email ke tim.unsurtani@gmail.com.

Loading...