Eradikasi, Langkah Praktis Menghidari Sebaran Tungro

0

Unsurtani.com – Eradikasi merupakan kegiatan pemusnahan total bagian tanaman (sampai ke akarnya) yang terserang penyakit atau seluruh inang untuk membasmi suatu penyakit. Dalam hal ini pemusnahan tanaman bersama inangnya yang terserang penyakit tungro. Penyakit tungro merupakan salah satu penyakit yang menyerang tanaman padi yang ditularkan oleh vektor pembawa virus tungro yaitu wereng hijau.

Penyakit tungro merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan tingginya kehilangan produksi padi apabila keberadaanya di lapangan sudah menyebar dan tidak dikendalikan. Terlebih apabila ditunjang oleh iklim dan kondisi lingkungan yang memadai, serta vektor yang menguntungkan dapat mempercepat sebaran penyakit tungro ke tanaman sehat di lapangan.

Keberadaan penyakit tungro tidak terlepas dari wereng hijau selaku pembawa virus tungro serta keberadaa sumber penyakit lain di lapangan. Keberadaan sumber inokulum penyakit tungro bisa berasal dari tanaman yang terinfeksi virus tungro, baik itu sisa pertanaman atau tanaman padi yang ada disekitarnya, maupun dari gulma yang ada di sekitar pertanaman yang memiliki potensi sebagai tempat singgah sementara virus tungro ketika tanaman padi tidak ada di lapangan. Keberadaan vektor penular tungro, yaitu wereng hijau yang tiap saat ada di lapangan menambah potensi penyebaran virus ini semakain besar.

Penularan virus tungro dapat terjadi apabila vektor memperoleh virus setelah mengisap tanaman yang terinfeksi virus, kemudian berpindah dan mengisap tanaman sehat tanpa melalui periode laten dalam tubuh vektor.

Gejala Serangan

Gejala penyakit tungro umumnya muncul kurang lebih seminggu setelah inokulasi, dimulai dari adanya diskolorasi kekuningan pada ujung daun muda, kemudian diikuti klorosis di antara vena daun. Tanaman yang sakit parah mempunyai anakan sedikit, pertumbuhan akar terhambat, sangat kerdil, dan menghasilkan panikel yang kecil dengan bulir-bulir gabah kosong.

Serangan tungro di suatu hamparan lahan sawah pada umumnya terlihat berkelompok, ini menandakan bahwa waktu menginfeksi berbeda-beda. Tanaman padi yang terserang terlihat seperti bergelombang, karena adanya perbedaan tingginya tanaman antara tanaman sehat dan tanaman yang sakit.

Pada varietas yang agak tahan, setelah petani memberikan tambahan pupuk nitrogen, pertanaman padi yang semula sakit, tampak seperti sembuh, menghijau seakan memberikan harapan untuk memperoleh hasil panen. Namun perlu diketahui bahwa sebenarnya virus-virus tungro tersebut masih tetap berada dan berkembang di dalamnya.

Pada varietas yang rentan, pertanaman tampak merana sampai waktu panen. Tetapi pada kasus yang lain, apabila tanaman padi terhindar dari infeksi sampai umur dua bulan, maka virus-virus tungro tidak akan mengakibatkan kerusakan tanaman dan kehilangan hasil.

Gejala khas serangan yaitu, daun padi berwarna kuning oranye (berbintik karat berwarna hitam) yang dimulai dari ujung daun dan berkembang sampai ke bagian bawah. Jumlah anakan berkurang, kerdil, tinggi tanaman tidak merata, malai berbentuk lebih pendek, dan banyak yang hampa.

Gejala lain yaitu terjadinya pemendekan jarak antara pangkal daun atau bahkan berhimpitan, sehingga terlihat seperti kipas.

Pengendalian

Pengendalaian bertujuan untuk mencegah meluasnya penyebaran serangan, serta menekan populasi wereng hijau yang menularkan penyakit. Salah satu langkah praktis untuk menghindari sebaran penyakit tungro di lapangan yaitu dengan meng-eradikasi rumpun bergejala tungro.

Lakukan segera mungkin apabila setelah ada gejala serangan, dengan cara mencabut tanaman yang sakit sampai ke akar-akarnya, kemudian membenamkan dalam tanah atau dibakar. Langkah ini dipandang sebagai langkah preventif penyebaran penyakit tungro lebih luas lagi.

Eradikasi rumpun bergejala diharapkan dapat meminimalisir virus yang ditularkan oleh vektor penyebab tungro wereng hijau ke tanaman sehat. Mengingat banyaknya faktor yang berpengaruh pada terjadinya serangan dan intensitas serangan, serta mencapai efektifitas dan efesiensi, pengendalian harus dilakukan secara terpadu, meliputi:

  • Tanam tepat waktu, yaitu disesuaikan dengan pola fluktuasi populasi wereng hijau yang sering terjadi pada bulan tertentu. Pada saat terjadinya puncak populasi, upayakan tanaman sudah memasuki fase generatif (berumur 55 hari atau lebih),
  • Tanam serempak akan memutus siklus hidup wereng hijau dan sumber inokulum.
  • Menanam varietas tahan, merupakan komponen penting dalam pengendalian tungro. Sejumlah varietas tahan yang dianjurkan antara lain : Tukad Patanu, Tukad Unda, Bondoyudo dan kalimas, IR-66, IR-72 dan IR-74.
  • Pemupukan N yang tepat, pemberian N yang berlebihan akan mengakibatkan tanaman menjadi lemah, mudah terserang wereng hijau dan terinfeksi virus tungro.

Simak artikel terkait lainnya:

Ditulis oleh Ruslia Atmaja,

Loading...