Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Iseminasi Buatan

0

Unsurtani.com – Inseminasi buatan (IB) merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan jumlah sapi potong. Inseminasi buatan sudah banyak dilakukan peternak yang sistem pemeliharanya secara tradisional maupun komersial.

Masih banyak permasalahan yang muncul seputar IB. Permasalahan tersebut antara lain untuk menjadi bunting diperlukan 1B berulang-ulang atau service per conception (SIC) >3 dan peternak tidak mengetahui tanda-tanda yang tepat saat sapinya perlu dikawinkan atau petani kurang memperhatikan saat sapinya birahi.

Apakah Inseminasi buatan (IB) itu ?

Inseminasi buatan (IB) adalah tindakan memasukan sperma sapi ke dalam saluran reproduksi sapi betina dengan tujuan untuk membuat sapi menjadi bunting tanpa melakukan kawin secara alami.

Bagaimanakah tanda-tanda sapi birahi atau minta dikawinkan ?

  1. Bagian kemaluan sapi betina, terlihat 3A yaitu (bahasa Jawa) abang, abuh dan anget atau warna kemaluannya kemerahan, bengkak dan hangat.
  2. Keluar lendir seperti putih telur dari kemaluan sapi betina.
  3. Sapi betina kelihatan gelisah seperti menaiki sapi lain atau bahasa jawanya clingkrak clingkrik.
  4. Apabila dinaiki sapi jantan tidak berontak atau diam saja.

Kapan sebaiknya dilakukan IB?

  • Waktu optimum untuk pelaksanaan IB adalah 6-12 jam setelah sapi menunjukkan gejala birahi.
  •  Sapi birahi pagi hari, IB dilakukan pada sore hari.
  • Sapi birahi sore hari, IB dilakukan pada pagi hingga siang hari.

Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan IB:

1. Faktor Kualitas Semen Beku.

Kriteria semen beku yang baik antara lain adalah :

  • Memiliki Post Thawing Motility (PTM) spermatozoa (gerakan spermatozoa setelah
    thawing/pencairan kembali) minimal 40%.
  • Gerakan individu spermatozoa minimal 2,
  • Jumlah spermatozoa 25 juta dalam setiap straw,
  • Volume semen : 0,25 ml/straw;
  • Penyimpanan semen beku yang baik, yaitu selalu terendam dalam nitrogen cair agar kualitas terjaga

2. Faktor Inseminator

Inseminator hendaknya memiliki keahlian dan keterampilan Inseminator dalam akurasi pengenalan birahi, sanitasi alat, penanganan/handling semen beku, pencairan kembali/thawing yang benar serta kemampuan melakukan IB ternak.

3. Faktor Betina Akseptor Betina

Akseptor hendaknya mempunyai nilai BCS/Kondisi tubuh yang sedang (BCS : 2,8 – 3,4), karena ternak yang terlalu gemuk sel telur akan terhalang lemak, dan jika terlalu kurus dikhawatirkan ovarium tidak berfungsi (Hipofungsi). Ternak yang sehat mempunyai siklus birahi yang normal dengan derajat birahi yang bagus. (Catt : Penilaian Inseminator sebelum IB sangat penting).

4. Faktor Peternak

Kemampuan peternak untuk mendeteksi birahi ternaknya, semakin baik/akurat peternak mendeteksi birahi akan berpengaruh bagi ketepatan inseminator melaksanakan IB yang akhirnya akan berpengaruh pada keberhasilan IB.

5. Faktor Waktu Pelaksanaan IB

Waktu yang tepat untuk melakukan IB adalah 10 jam setelah gejala awal birahi. Misalkan birahi pagi, maka dilakukan IB adalah sore dan jika birahi sore IB paling lambat besok paginya.

Sumber: Widodo Suwito, “Inseminasi Buatan”. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta

Loading...