Persemaian Terapung Pembibitan Tanaman Padi Pada Sawah Lebak

0

Unsurtani.com – Budidaya tanaman padi merupakan kegiatan yang sudah berlangsung sejak lama di Indonesia. Secara umum budidaya tanaman padi dilakukan di lahan basah selain dilakukan juga di lahan kering (padi gogo).

Budidaya tanaman padi di lahan basah (sawah) dapat dibagi berdasarkan sumber air dari lahan budidaya tersebut. Sawah irigasi merupakan budidaya padi di lahan basah yang sumber airnya berasal dari air irigasi teknis baik irigasi teknis secara penuh atau setengah teknis. Sawah tadah hujan merupakan budidaya lahan sawah yang airnya mengandalkan air hujan.

Mengingat semakin sempitnya lahan subur beririgasi teknis untuk sawah, maka lahan sub-optimal menjadi lahan alternatif untuk pengembangan budidaya tanaman padi. Salah satu lahan sub optimal yang sudah lama dikembangkan dan juga semakin dikembangkan adalah
lahan rawa (pasang surut dan lebak).

Khusus lahan lebak, masyarakat Sumatera Selatan sudah biasa memanfaatkan lahan tersebut untuk budidaya tanaman padi. Petani sudah mempunyai ritmus dalam budidaya padi dengan menyesuaikan dengan fluktuasi air hujan serta musim yang berlangsung.

Masyarakat petani lebak dalam pengembangan lahannya sudah menghasilkan kebiasaan lokal yang menyesuaikan dengan situasi agroekosistem lahan mereka. Kebiasaan lokal yang banyak dilakukan di masyarakat petani lebak Sumatera Selatan salah satunya adalah pembuatan persemaian terapung untuk pembibitan tanaman padi.

Cara pembuatan persemaian terapung bibit tanaman padi:

1. Beberapa tumbuhan air (seperti Hydrilla spp.) yang berupa akar, batang dan ranting tumbuhan dikumpulkan dan dibentuk “rakit” yang terapung di permukaan air.

2. Jaringan tumbuhan air yang sudah dibuat selanjutnya diberi media tanah dari lumpur rawa lebak yang banyak mengandung bahan organik.

3. Persemaian terapung yang sudah diberi media tanah berupa lumpur rawa lebak ujung-ujungnya diikatkan dengan galah kayu yang ditancapkan ke dalam tanah sehingga rakit tersebut tidak bergerak tersapu air. Untuk “rakit” ukuran 4 m x 0,7 m dapat mensuplai bibit padi seluas 0,5 ha lahan.

4. Benih padi ditaburkan secara merata di atas media tanah yang sudah disiapkan sejumlah 620 g m-2 persemaian atau untuk kebutuhan 30 kg ha-1.

5. Selanjutnya ditutupi dengan plastik untuk menghindari dari serangan burung.

6. Kondisi persemaian baik di lahan pertanaman maupun di lahan berdekatan dengan tempat tinggal petani yang siap ditransplanting ke persemaian utama atau ke lahan jika muka air sudah mulai surut.

Manfaat dari metode persemaian terapung adalah:

  • Menghindari terendamnya tanaman,
  • Memanfaatkan masa musim hujan sehingga periode penanaman berikutnya tidak terlambat,
  • Menghemat lahan yang biasanya dimanfaatkan petani untuk budidaya tanaman sayuran,
  • Mempermudah pemeliharaan bibit terhadap pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu lainnya, dan
  • Menyediakan pasokan bibit untuk kebutuhan petani lainnya, yang bersamaan melakukan penanaman.

Aplikasi media terapung ini dapat dimanfaatkan secara daur ulang untuk periode penanaman berikutnya, sebab sumber tumbuhan air tidak musnah dan tersedia secara berkelanjutan (sustainable source).

Simak juga artikel terkait lainnya:

Loading...