Pengendalian Hama dan Penyakit Utama Tanaman Kakao

0

Unsurtani.com – Usaha pengembangan kakao sering mengalami berbagai hambatan terutama oleh hama dan penyakit. Salah satu kendalan utamanya adalah adanya berbagai jenis hama/penyakit yang sering menyerang tanaman kakao.

Serangan hama dan penyakit merupakan salah satu faktor utama penyebab rendahnya produksi biji kakao. Selain itu, serangan hama dan penyakit juga berpengaruh besar terhadap kualitas biji kakao yang dihasilkan.

Jenis hama/penyakit yang sering menyerang tanaman kakao antara lain: (i) hama penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella), (ii) kepik penghisap buah kakao (Helopeltis antonii Sign), (iii) penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora), dan Penyakit Pembuluh Kayu (Oncobasidium theobromae).

Berikut ini  cara Pengendalian Hama dan Penyakit Utama Tanaman Kakao:

1. Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella)

Buah kakao yang diserang berukuran panjang 8 cm, dengan gejala masak awal yaitu belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva.

Pada saat buah dibelah, biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Selain itu buah jika digoyang tidak berbunyi.

Usaha pengendalian hama/penyakit tersebut terutama dilakukan dengan sistem PHT (Pengendalian Hama Terpadu). Pengendaliannya dilakukan dengan cara antara lain:

  • Karantina yaitu dengan mencegah masuknya bahan tanaman kakao dari daerah terserang PBK.
  • Pemangkasan bentuk dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4 cm, sehingga memudahkan saat pengendalian dan panen.
  • Mengatur cara panen, yaitu dengan melakukan panen sesering mungkin (7 hari sekali) lalu buah dimasukkan kedalam karung, sedangkan kulit buah dan sisa-sisa panen dibenam.
  • Penyelubungan buah (kondominasi), caranya denga menggunakan kantong plastik dan cara ini dapat menekan serangan sekitar 95-100%. Selain itu, sistem ini dapat juga mencegah serangan hama helopeltis dan tikus.
  • Rehabilitasi menggunakan klon tahan, seperti: ICCRI 07 atau Sulawesi 03.
  • Pemanfaatan agens hayati seperti semut hitam (Dolichoderus thoracicus) dan jamur Beauveria bassiana.
  • Cara kimiawi: menggunakan insektisida pyretroid sintetik (bahan aktif: deltametrin, sihalotrin, fipronil, sipermetrin, bifemtrin, esvenvalerat, betasiflutrin). Penyemprotan dilakukan saat tingkat serangan sedang dan berat > 30% atau saat banyaj buah pentil dipohon. Sasaran penyemprotan adalah buah muda dan cabang horisontal.

2. Kepik Penghisap Buah (Helopeltis spp)

Buah kakao yang terserang tampak bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman dengan ukuran bercak relatif kecil (2-3 mm) dan letaknya cenderung diujung buah. Serangan pada buah muda menyebabkan buah kering dan mati, tetapi jika buah tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Bila serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan daun layu, gugur kemudian ranting layu mengering dan meranggas.

Pengendalian yang efektif dan efisien sampai saat ini dengan penyemprotan insektisida nabati ekstrak daun mimba, tembakau, sirsak, wedusan, sereh, paitan, dengan konsentrasi 2,5 – 5 %, dan insektisida kimia konsentrasi formulasi 0,05 – 0,2 %

Selain itu, hama helopeltis juga dapat dikendalikan secara biologis menggunakan semut hitam (Dolichoderus thoraxicus) dalam populasi yang berlimpah. Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa diletakkan diatas jorket dan diolesi gula. Penyemprotan jamur Beauveria bassiana dosis 100 gr spora atau 1,5 – 2 kg biakan padat.

3. Penyakit Busuk Buah (Phytophthora palmivora)

Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah. Penyakit ini disebarkan melalui sporangium yang terbawa atau terpercik air hujan, dan biasanya penyakit ini berkembang dengan cepat pada kebun yang mempunyai curah hujan tinggi dengan kondisi lembab.

Penyakit ini dapat diatasi dengan beberapa cara, antara lain:

  • Sanitasi kebun, dengan memetik semua buah busuk, lalu membenamkannya dalam tanah sedalam 30 cm.
  • Kultur teknis, yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan dilakukan pemangkasan pada tanamannya, sehingga kelembaban didalam kebun akan turun.
  • Cara kimia, yaitu menyemprotkan buah dengan fungisida seperti: Sandoz, cupravit Cobox, dll. Penyemprotan dilakukan dengan frekuensi dua minggu sekali.
  • Penggunaan klon tahan hama/penyakit seperti: klon ICCRI 03, ICCRI04, DRC 15, Sca 6, ICS 6, dan hibrida DR1.

4. Penyakit Pembuluh Kayu (Oncobasidium theobromae)

Tanaman kakao yang terserang akan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: terjadinya klorosis dan nekrosis pada daun. Pertama-tama daun yang terserang akan terdapat bercak kuning yang kemudian menyebar dan berubah menjadi coklat dan kering.

Jika daun dipetik, maka akan ada noktah coklat pada bekas duduk daun, selain itu jika batang dibelah terdapat alur berwarna coklat pada xylem.

Pengendalian penyakit dapat dibagi menjadi tiga kelompok:

1. Infeksi ringan: (i) pemangkasan sanitasi dengan interval 2-3 bulan sekali, (ii) pemupukan yang berimbang, (iii) perbaikan pohon penaung, dan pembuatan saluran pembuangan air pada lokasi yang sering tergenang air.

2. Infeksi sedang: (i) rehabilitasi tanaman kakao dengan sambung samping atau sambung pucuk menggunakan klon tahan penyakit pembuluh kayu. (ii) sambung samping hanya dapat dilakukan pada tanaman kakao yang batangnya sehat dan tidak terinfeksi kanker batang.

3. Infeksi berat: (i) replanting tanaman kakao yang terinfeksi berat dan berumur tua. (ii) rehabilitasi tanaman kakao dengan sambung samping kanopi pada tanaman muda. (iii) aplikasi fungisida golongan triazole.

Penggunaan Pestisida Secara Rasional

Tujuan utama yaitu mengurangi ketergantungan terhadap pestisida, terutama yang memiliki daya racun tinggi. Prinsip 5T pada aplikasi pestisida untuk menghindari residu pestisida. yakni Tepat jenis, Tepat waktu, Tepat Dosis, Tepat cara, Tepat sasaran.

Manfaat aplikasi pestisida secara rasional yaitu  untuk menurunkan jumlah penggunaan pestisida, menghemat uang, meningkatkan hasil kebun, melindungi kesehatan petani, mengurangi dampak negatif pestisida terhadap lingkungan.

Tahap-tahap keputusan dalam mengaplikasikan pestisida pada kakao dilapangan:

  • Pemeriksaan kebun secara teratur untuk mengetahui masalah hama dan penyakit.
  • Pemeriksaan kebun secara lebih teliti untuk menemukan sumber masalah.
  • Putuskan, apabila permasalahan yang ada adalah serius/penting.
  • Putuskan, apakah perlu menggunakan pestisida.
  • Pilih pestisida yang benar.
  •  Aplikasi pestisida secara benar dan aman dengan menggunakan peralatan pelindung diri saat aplikasi pestisida.

Simak artikel terkait lainnya mengenai kakao, berikut ini:

Loading...