Penggunaan Legin Pada Kedelai (Legium Inokulan – Rhizobium Japonicum)

0

Unsurtani.com –¬†Keistimewaan tanaman kedelai yang tergolong kacang-kacangan ini (leguminose) jika dibandingkan dengan tanaman bukan kacang-kacangan ialah adanya bintil akar pada akar tanaman tersebut.

Bintil akar ini merupakan tempat berlangsungnya asimilasi N2 (zat lemas) menjadi senyawa hitrogen tanaman (protein dan sebagainya) oleh bakteri yang hidup bersimbiosis dengan tanaman kacang-kacangan di dalam bintil akarnya.

Jadi bintil akar dapat disamakan dengan pupuk nitrogen alami. Dengan pupuk nitrogen alami ini tanaman kedelai dan tanaman kacang-kacangan pada umumnya memenuhi kebutuhan nitrogennya. Kurang lebih dua pertiga dari kebutuhan nitrogen tanaman kacang-kacangan dipenuhi dari hasil penambatan N2.

Proses pengikatan zat lemas dalam bintil akar ini dikenal sebagai proses fiksasi nitrogen. Akan tetapi hasil fiksasi nitrogen ini dalam memenuhi kebutuhan tanamnnya sangat tergantung pada keefektifan bintil akarnya.

Pembentukan dan Fungsi Bintil Akar

Bintil akar pada tanaman kacang-kacangan hanya akan terbentuk jika akar tanaman pada tingkat tertentu dari masa perkecambahan biji dapat bertemu dengan bakteri Rhizobium yaponicum.

Jika pada waktu biji kedelai yang ditanam berkecambah, dan disekitar akarnya terdapat bakteri Rhizobium yaponicum, maka bakteri ini akan masuk ke dalam akar tanaman melalui bulu-bulu akar, selanjutnya akan terjadi reaksi timbal balik (interaksi) antara bakteri dengan tanamannya yang menghasilkan pembentukan bintil akar.

Bintil akar ini dapat dilihat pada waktu tanaman berumur 3-4 minggu. Keefektifan bintil akar dalam proses fiksasi nitrogen tergantung pada varietas atau strain Rhizobium-nya.

Nitrogen (N) merupakan unsur paling penting bagi pertumbuhan tanaman, namun ketersediaan N didaerah tropis seperti di Indonesia tergolong rendah. Pupuk N buatan yang menggunakan gas alam sebagai bahan dasar mempunyai keterbatasan karena gas alam tidak dapat diperbarui. Oleh karena itu, diperlukan teknologi penambatan N secara hayati melalui inokulasi rhizobium untuk mengefisienkan pemupukan N.

Petani kedelai di Australia selalu menggunakan Rhizobium untuk inokulasi pada saat penanaman, yang dicampur dengan benih. Legin diperlukan setiap musim tanam, dan sangat membantu proses fiksasi Nitrogen dari udara.

Di Indonesia, program leginisasi pada tanaman kacang-kacangan pernah populer, namun karena faktor harga dan teknis di lapangan, menyebabkan penggunaan legin terhenti di tingkat petani. Malah ada anggapan, bahwa aplikasi legin cukup sekali saja pada lahan yang ditanami tanaman jenis legum, padahal di Australia, anjuran penggunaan rhyzobium menjadi mutlak setiap musim tanam.

Cara inokulasi kedelai adalah :

1. Dengan menggunakan legin ( Legium inokulan) Legin adalah sejenis biakan bakteri Rhizobium Japonicum berupa serbuk berwarna hitam, dibungkus dalam kantong plastik.

Penggunaan Legin :

  • Basahi biji kedelai dengan air sampai cukup basah (jangan berlebihan),
  • Berikan legin pada biji yang telah dibasahi tersebut sedikitnya 7,5 gr /kg. Usahakan campuran legin ini merata.
  • Biji yang telah dicampur dengan legin segera ditanam, janganlah ditunda lebih dan 6 jam.
  • Usahakan agar biji yang telah dicampur dengan legin tidak kena cahaya matahan langsung, agar biji tetap basah. Bila kering legin dapat menurun efektifitasnya.

2. Inokulasi dengan menggunakan tanah yang pernah ditanami kedelai.

  • Jika tidak tersedia legin, ada cara lain yaitu dengan mencampur tanah dan lahan yang sudah pernah ditanami kedelai, dengan biji kedelai yang akan ditanam.
  • Perbandingan 1-2 kg. tanah untuk setiap 10 kg biji yang akan ditanam.

Pada tanah yang sudah sering ditanam dengan kedelai atau kacang-kacangan lain, berarti sudah mengandung bakteri tersebut. Bakteri ini akan hidup di dalam bintil akar dan bermanfaat sebagai pengikat unsur N dari udara.

Hasil Penggunaan Legin

Jumlah polong isi tertinggi diperoleh dari tanaman yang diinokulasi dengan rhizobium. Ini berarti bahwa pemberian inokulan rhizobium dapat memberikan hasil yang lebih baik. Jumlah cabang subur dan bobot 100 biji tidak menunjukkan perbedaan antara perlakuan, karena status hara tanah relatif baik dan ditunjang dengan pemeliharaan yang intensif.

Perlakuan tanpa inokulan dan tanpa pupuk N memberikan hasil biji kering paling rendah dibanding perlakuan pupuk N dan/atau inokulan rhizobium, baik yang berasal dari Rhizoplus maupun Legin. Hasil biji kering tertinggi, yaitu 2.696,3 kg/ha diperoleh pada perlakuan Rhizoplus + 45 kg N/ha.

Simak artikel terkait lainnya, berikut ini:

Oleh: Basri AB (BPTP Aceh)

Loading...