Keunggulan Teknik Perbanyakan Okulasi Irisan pada Tanaman Jeruk

0

Unsurtani.com – Perbanyakan tanaman jeruk dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif. Cara generatif dilakukan dengan menanam bijinya, sedang cara vegetatif dapat dilakukan melalui cangkokan, setek, penempelan (okulasi) atau penyambungan (grafting).

Perbanyakan dari biji jarang dilakukan karena dapat mengakibatkan selain buahnya tidak sama dengan induknya juga memiliki sifat juvenile atau masa tunggu berbuah lebih lama. Bibit jeruk komersial di Indonesia pada umumnya diperbanyak dengan cara penempelan atau okulasi.

Cara perbanyakan ini telah biasa dilakukan oleh penangkar karena dipahami mempunyai beberapa kelebihan dibanding dengan cara perbanyakan lainnya. Ada beberapa mecam teknik okulasi yang dapat diterapkan di pembibitan jeruk, yaitu :

  • Okulasi biasa (Forkert modification budding),
  • Okulasi-T (Tbudding) dan
  • Okulasi irisan (chip budding).

Tiga macam cara okulasi tersebut dapat dimodifikasikan menjadi beberapa cara yang merupakan hasil pengembangan atau kombinasi dari beberapa cara okulasi yang ada, contohnya Okulasi-T menjadi Okulasi-T terbalik dan lainnya.

Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Okulasi

1. Kondisi materi perbanyakan

Semaian batang bawah yang sedang mengalami pertumbuhan aktif, yang biasanya ditandai tumbuhnya tunas baru dan kulit batangnya mudah dikelupas merupakan kondisi optimal untuk diokulasi. Ukuran diameter batang masih menjadi patokan sebagai dasar kesiapan batang bawah untuk ditempel.

Secara umum, semaian batang bawah yang penampang batangnya pada ketinggian okulasi sudah berbentuk bulat atau mempunyai tinggi sekitar 40 – 50 cm merupakan kondisi ideal untuk di okulasi. Mata tempel untuk okulasi sebaiknya berasal dari Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT), karena selain dijamin kemurnian varietas, kesehatan dan juga mutunya.

Ranting mata tempel berpenampang bulat-agak pipih dengan mata tempel aktif merupakan kriteria mata tempel yang ideal. Tidak dianjurkan untuk menggunakan mata tempel dari ranting yang terlalu kecil dan pipih, karena akan menghasilkan bibit yang tidak seragam dan biasanya berduri.

2. Keterampilan pelaksana

Penguasaan teknik perbanyakan yang benar mutlak harus dimiliki seorang penangkar atau petugas okulasi sehingga dapat memilih teknik perbanyakan yang sesuai, efisien waktu, tenaga dan biaya. Pisau okulasi yang digunakan harus benar benar tajam, sehingga sayatan mata tempel dan batang bawah benar-benar menjadi rata dan dapat menyatu sempurna.

Untuk menghindari adanya kontaminasi penyakit terutama yang ditularkan melalui alat pertanian seperti pisau okulasi, gunting pangkas) dan peralatan lainnya, maka alat-alat tersebut sebelum dan sesudahnya harus disterilkan dengan menggunakan larutan alkohol 70% atau klorox.

Berdasarkan pengalaman, semaian batang bawah yang batangnya berukuran relatif besar sesuai ditempel dengan okulasi Forkert dan okulasi-T, sedangkan jika berukuran relatif kecil dan muda bisa ditempel okulasi-irisan. Demikian pula pada ranting mata tempel yang berpenampang besar dan bulat sesuai untuk okulasi forkert dan jika berpenampang relatif kecil dan agak pipih sesuai untuk okulasi irisan dan okulasi-T.

3. Kondisi lingkungan tumbuh

Lingkungan tumbuh yang optimal diperlukan untuk proses penyembuhan luka jaringan mata tempel dan semaian batang bawah. Oksigen, temperatur dan kelembaban mempunyai peranan penting dalam mengatur proses penyatuan jaringan. Kebutuhan oksigen dapat dipenuhi dengan cara pengikatan okulasi yang tidak terlalu kencang, temperatur optimal berkisar antara 20-30°C dan kelembaban udara dipertahankan diatas 70%.

Keunggulan Okulasi Irisan

Okulasi irisan mempunyai beberapa kelebihan dibanding cara okulasi lainnya, yaitu :

  1. Secara teknis mudah dilaksanakan, cepat, persen keberhasilan tinggi, dan pertumbuhan bibit relatif cepat.Petugas okulasi terampil dalam waktu satu jam mampu melakukan okulasi-irisan sebanyak 50-60 semaian batang bawah, sedangkan dengan metode okulasi lain hanya 40-45 semaian batang bawah.
  2. Dapat dilakukan pada kondisi semaian batang bawah yang masih muda yaitu berumur 4-6 bulan setelah transplanting karena okulasi irisan dapat menggunakan sayatan mata tempel yang lebih kecil.
  3. Okulasi-irisan dapat dlaksanakan pada semaian batang bawah yang kulitnya tipis dan sulit dikelupas.

Akhir akhir ini, para penangkar bibit jeruk terutama petugas okulasinya yang telah mengenal teknik perbanyakan metode okulasi-irisan, tidak mau kembali lagi pada cara okulasi lain yang dikenal sebelumnya karena telah merasakan kelebihan yang dimiliki okulasi-irisan.

Simak juga :Penangan Buah Jeruk Agar Tetap Segar Mulai dari Pemanenan Hingga Penyimpanan

Sumber : Lolitjeruk

Loading...

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini