Pengendalian Hama Penting Tanaman Wijen

0

Unsurtani.com – Di Indonesia, tanaman wijen ditanam dalam skala terbatas dan hasil produksi wijen belum mencukupi kebutuhan dunia, sehingga peluang peningkatan produksi untuk ekspor cukup besar. Hasil utama wijen berupa biji yang mengandung minyak 35 – 63% dan protein 19 – 25%.

Kelebihan lain, minyak wijen mengandung 7 dari 8 asam amino esensial yang tidak dapat disintesis dalam tubuh, tetapi dibutuhkan manusia. Minyak wijen mempunyai asam lemak jenuh rendah sehingga tidak berbahaya jika dikonsumsi oleh penderita kolesterol tinggi.

Produksi wijen di Indonesia potensi rata-rata 350 kg/ha biji kering, jauh lebih rendah dibanding potensi produktivitasnya yang mencapai 1000 – 1600 kg/ha. Rendahnya produktivitas disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adanya gangguan hama. Hama-hama penting pada tanaman wijen antara lain:

1. Polyphagotarsonemus latus (Banks)

Tungau kuning (Yellow mite/Broad mite) yang bisa mengakibatkan kerusakan daun (keriting) hingga mencapai lebih dari 80%. Siklus hidupnya singkat dan aktivitasnya sangat tinggi.

Hama ini polifag, tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, kecuali menggunakan mikroskop. Ukuran tungau ini sangat kecil, telur 0,7 mm, larva 0,1 mm, nimfa dan dewasa 1-1,5 mm. Persentase penetasan telur mencapai 76,92% hingga 92,31%. Hal ini dipengaruhi oleh faktor suhu dan kelembaban.

Tungau kuning P. latus sudah menyerang tanaman wijen pada 21 hari setelah tanam. Gejala serangan pada daun yang masih muda dibagian pucuk tanaman terlihat ada tanda-tanda daun mulai berubah bentuk, kaku, kelihatan bentuk daun menjadi abnormal, kemudian menebal, hijau tua, dan melengkung kebawah, akhirnya menjadi keriting.

Pada serangan cukup parah, pembungaan akan gugur dan tidak terbentuk polong, sehingga dapat menurunkan produktivitas tanaman wijen. Tanaman inang lain ada 60 famili, antara lain: jarak pagar, yute, kacang hijau, tomat, cabai, kapas, jeruk, tembakau, kacang panjang, teh, pepaya, mangga, beberapa tanaman gulma seperti: tagetes, pacar air, klampesan, anting-anting, dan beberapa tanaman kotiledon. Tanaman hias yang dapat terserang antara lain: dahlia, mawar, dan anyelir.

2. Aphis gossypii (Homoptera: Aphididae)

Hama kutu daun ini merusak tanaman wijen dengan cara menusuk menghisap cairan tanaman (daun). Lama hidup A. gossypii berkisar antara 14 – 18 hari, panjang 1 – 2 mm, warna tubuh bervariasi ada yang kuning, kemerah-merahan, hijau gelap, dan hitam suram.

Perkembangbiakan secara partenogenesis. Musuh alaminya predator Coccinella, lalat Syrphid, Monochilus sexmaculatus, dan Parasitoid Aphidius sp.

3. Antigastra catalaunalis (Lopidoptera: Pyralidae)

Serangga ini merusak pada stadium larva dengan menggerek dan membuat semacam pintalan benang berwarna putih pada daun dan ulat ini ada dalam pintalan benang tersebut. Akibatnya serangan yang ditimbulkan belum berarti karena kerusakan sangat rendah.

4. Nezara viridula (Heminoptera: Pentatomidae)

Hama ini sering disebut kepik hijau, merusak tanaman wijen dengan mensekresi toksin pada daun, sehingga daun berubah warna menjadi kekuning-kuningan. Telur diletakkan secara berkelompok antara 10 – 90 butir.

Nimfa berwarna coklat cerah, perkembangan telur sampai imago 4 – 8 minggu, daur hidup 60 – 80 hari maksimum 6 bulan.

5. Dysdercus cingulatus (Hemiptera: Pyrrhocoridae)

Serangga hama ini sering disebut bapak pucung dan merusak polong wijen, sehingga dapat menurunkan produktivitas tanaman wijen.

Cara Pengendalian

Untuk pengendalian hama-hama diatas, ada dua metode yang bisa dilakukan, yaitu secara alami dan secara kimia.

1. Insetisida alami (Anorganik)

Cara pembuatan: 1 kg belerang ditumbuk halus dan direbus hingga mendidih dalam 10 liter air. Masukkan secara perlahan 2 kg kapur yang sudah direndam air, dalam sulfur yang sedang mendidih selama kurang lebih 15 menit. Setelah warna berubah menjadi kemerah-merahan, api dimatikan. Saring dan siap digunakan. Dosis 2,5 – 5 ml/l air sudah dapat membunuh P. latus hingga 98%. (uji Laboratorium)

2. Insektisida Kimia

Penggunaan insektisida seperti Mition 500 EC, Harad 200 EC, Pegasus 500 SC, Potraz 200 EC, Centamec 36 EC, Agus 500 SC, Torso 150 EC, Talstar 25 EC, Apollo 500 SC, Applaud 10 WP, Applaud 440 SC, Agridan 150 EC, Arrivo 30 EC, Pounce 20 EC dan lain sebagainya. Penggunaan insektisida tersebut telah direkomendasikan terhadap hama sasaran sesuai petunjuk yang tertera pada label kemasan.

Loading...

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini