Unsurtani.com – Pemanfaatan pupuk organik merupakan solusi untuk mengatasi kelangkaan dan kenaikan harga pupuk anorganik yang terus melambung. Penggunakan pupuk organik (berupa kompos) selalu mendapat perhatian semua kalangan karena bahan baku pembuatan kompos ini selalu tersedia secara berlimpah di sekitar areal pertanian.

Kompos mampu memperbaiki sifat-sifat fisik, kimiawi, dan biologi tanah. Sumber bahan kompos antara lain berasal limbah organik seperti sisa-sisa tanaman (jerami, batang, dahan), sampah rumah tangga, kotoran ternak (sapi, kambing, ayam), arang sekam, abu dapur.

Sifat-Sifat Kompos

  • Memperbaiki struktur tanah berlempung sehingga menjadi ringan,
  • Memperbesar daya ikat tanah berpasir sehingga tanah tidak berderai,
  • Menambah daya ikat air pada tanah,
  • Memperbaiki drainase dan tata udara dalam tanah,
  • Mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara,
  • Mengandung hara yang lengkap, walaupun jumlah sedikit (jumlah hara ini tergantung dari bahan pembuat pupuk organik),
  • Membantu proses pelapukan bahan mineral,
  • Memberi ketersediaan bahan makanan bagi mikroba,
  • Menurunkan aktivitas mikroorganisme yang merugikan.

Kompos yang dihasilkan melalui fermentasi dengan pemberian EM4 dinamakan bokashi. Kata bokashi diambil dari bahasa Jepang yang berarti bahan organik yang terfermentasi. Oleh orang Indonesia kata bokashi dipanjangkan menjadi “bahan organik kaya akan sumber kehidupan”.

Tempat Pembuatan

Pembuatan bokashi tidak memerlukan tempat khusus. Dalam gudang atau gubuk juga dapat dilakukan. Perlu diperhatikan, proses tersebut tidak terkena matahari maupun hujan secara langsung. Oleh karenanya, tempat pembuatan diusahakan beratap. Bila pengomposan dilakukan di atas tanah, sebaiknya diberi alas, misalnya plastik, terpal atau dedaunan.

Alat dan Bahan

Pembuatan kompos dengan kapasitas 1 ton diperlukan kotak yang berukuran 3 x 1 x 1.5 meter. Bahan utama (bahan organik) yang dibutuhkan untuk membuat bokashi ada beberapa macam seperti jerami, pupuk kandang, kotoran hewan, rumput, pupuk hijau, sekam atau serbuk gergaji.

Bahan lain yang mutlak dibutukan adalah dedak. Kebutuhan dedak ini sekitar 10% dari total bokashi yang akan dihasilkan. Namun, jika bahan organik berupa kotoran hewan (bukan pupuk kandang) maka kebutuhannya lebih banyak, sekitar 15 – 20%.

Sebagai sumber energi atau makanan bagi bakteri, pada tahap awal sebelum proses fermentasi diperlukan molase (tetes tebu). Molase ini dapat diganti dengan gula putih atau gula merah. Dari ketiga bahan tersebut, molase lebih baik dibandingkan gula merah dan gula merah lebih baik daripada gula putih. Hal ini dapat dipahami karena molase mengandung asam amino yang lebih baik daripada gula merah dan asam amino pada gula merah lebih baik daripada dalam gula putih.

Selain dosis di atas, dalam pembuatan bokashi dapat digunakan dosis yang umum. Bila akan menghasilkan 1 ton bokashi, dapat digunakan takaran atau dosis: 80% bahan oraganik, 10% pupuk kandang, 10% dedak, 1 liter EM4, 1 liter molase ( ½ kg gula pasir atau ½ kg gula merah), serta air secukupnya (kadar air 30 %).

Cara Pembuatan

Pembuatan berbagai macam bokashi pada dasarnya tidak berbeda. Oleh karenanya, teknik pembuatanya diulas sekali saja. Tahap pembuatan bokashi sebagai berikut:

1. Siapkan larutan EM4 + gula + air dicampur merata.

2. Siapkan bahan-bahan bokashi (pilih salah satu komposisi bokashi yang ingin anda buat) berikut ini :

  • Bokashi jerami : jerami 200 kg (dipotong 5 – 10 cm) + dedak 10 kg + sekam 200 kg, dicampur merata.
  • Bokashi pupuk kandang : pupuk kandang 300 kg + sekam 200 kg + dedak 10 kg, dicampur merata.
  • Bokashi pupuk kandang-arang : pupuk kandang 200 kg + dedak 10 kg + arang sekam/arang serbuk gergaji 100 kg, dicampur merata.
  • Bokashi pupuk kandang-tanah : tanah 20 kg + pupuk kandang 10 kg + arang sekam/arang serbuk gergaji 10 kg + dedak 10 kg, dicampur merata.
  • Bokashi ekspres : jerami kering (bahan yang lain) 200 kg + bokashi yang sudah jadi 20 kg + dedak 20 kg, dicampur merata.

3. Bahan bokashi yang telah disiapkan disiram larutan EM4. Pencampuran dilakukan perlahan dan merata hingga kandungan air ± 30 – 40%. Kandungan air yang diinginkan diuji dengan menggenggam bahan, ditandai dengan tidak menetesnya air bila bahan digenggam dan akan mekar bila genggaman dilepaskan.

4. Bahan yang telah dicampur diletakkan diatas tempat yang kering atau dapat juga dimasukkan kedalam ember atau karung. Bila diletakkan dilantai, bahan sebaiknya ditumpuk secara teratur. Tumpukan bahan umumnya setinggi 15 – 20 cm, tetapi dapat juga hingga 1.5 meter, setelah itu tumpukan bahan ditutup dengan karung goni atau terpal.

5. Suhu tumpukan dipertahankan antara 40 – 50°C, untuk mengontrolnya, setiap 5 jam sekali (minimal sekali sehari) suhunya diukur. Apabila suhunya tinggi, bahan tersebut dibalik didiamkan sebentar agar suhunya turun, lalu ditutup kembali, demikian seterusnya.

6. Proses berlangsung 4 – 7 hari, kecuali untuk bokashi ekspres, fermentasi berlangsung 24 jam (1 hari). Apabila bahannya mengandung minyak (seperti minyak kayu putih, nilam, cengkeh, ampas kelapa, atau ampas tahu), proses fermentasi berlangsung lebih lama, sekitar 14 – 29 hari karena dibutuhkan waktu untuk menetralisir minyak tersebut.

7. Setelah bahan menjadi bokashi, karung goni dapat dibuka. Bokashi ini dicirikan dengan warna hitam, gembur, tidak panas, dan tidak berbau. Dalam kondisi seperti itu, bokashi telah dapat digunakan sebagai pupuk.

Penggunaan

Bokashi dapat digunakan seperti pupuk kandang atau pupuk kompos. Dosis yang umum digunakan yaitu 3 – 4 genggam bokashi untuk satu meter persegi lahan. Penggunaan berbagai macam bokashi secara umum sama. Namun, alangkah baiknya bila penggunaannya disesuaikan dengan unsur hara dalam bokashi tersebut.

  • Bokashi jerami dan bokashi pupuk kandang baik digunakan untuk melanjutkan fermentasi penutup tanah (mulsa) dari bahan organik dan digunakan dalam lahan sawah karena ketersediaan bahannya cukup.
  • Bokashi pupuk kandang dan bokashi pupuk kandang-tanah baik digunakan untuk media pembibitan dan media tanam yang masih kecil.
  • Bokashi ekspres baik digunakan untuk penutup tanah (mulsa) pada tanaman sayur dan buah-buahan.

Keunggulan

Bokashi yang diperoleh dengan bantuan EM4 sudah dapat digunakan dalam waktu yang relatif singkat, yaitu setelah proses 7 – 14 hari. Selain itu bokashi hasil pengomposan tidak panas, tidak berbau busuk, tidak mengandung hama dan penyakit, serta tidak membahayakan pertumbuhan atau produksi tanaman.

Simak juga:

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini