9 Langkah Pengendalian Penyakit LAYU NANAS (Pineapple Wilt Disease)

0

Unsurtani.com – Nanas (Ananascomosus (L.) Merr.) adalah salah satu buah tropis yang bernilai ekonomi tinggi. Nanas kaya akan nutrisi seperti vitamin C dan enzim Bromealin. Disamping untuk konsumsi segar buah nanas juga dapat diolah menjadi berbagai macam produk makanan dan minuman, selain itu juga sebagai bahan industri.

Peluang pengembangan komoditas nanas di Indonesia diproyeksikan akan terus meningkat, karena permintaan pasar cukup tinggi, potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan sangat luas dan meningkatnya daya beli masyarakat diakibatkan kesadaran akan nilai gizi. Kendala utama dalam budidaya nanas adalah serangan penyakit yang sangat berbahaya yaitu Penyakit layu (Pineapple Wilt Disease).

Di luar negeri, kehilangan hasil akibat serangan penyakit ini mencapai 40-100%, sedangkan di Indonesia belum ada laporan namun penyakit ini telah ditemukan hampir di seluruh daerah nanas dengan serangan yang bervariasi dari ringan-parah.

Penyebab : Penyakit layu ini disebabkan oleh virus (Closterovirus) Yang disebut dengan Pineapple Mealybug wilt-associated viruses (PMWaV) atau disebut juga dengan virus yang hidup bersosialisasi dengan hama kutu putih.

Gejala Serangan :

  • Daun berubah warna menjadi coklat kemerahan, selanjutnya berubah menjadi merah muda dengan ujung daun menggulung. Pada serangan parah, seluruh daun menjadi layu, mengering dan akhirnya tanaman mati.
  • Pertumbuhan akar terhenti, akar membusuk dengan warna coklat sampai hitam. Terdapat koloni kutu putih pada perakaran, pada Tanah di sekitar perakaran dan pada pangkal batang bahkan juga pada buah. Serangan penyakit menyebabkan lemahnya sistem perakaran sehingga mengganggu transportasi air dan nutrisi.

Penularan : Penyakit layu nanas ditularkan oleh kutu putih Dysmicoccus brevises Cockerell (Hemiptera: Pseudococcidae). Disamping sebagai penular penyakit atau vektor virus PMWaV, kutu putih juga merupakan hama utama pada tanaman nanas. Kutu hidup dalam dompolan/koloni (± 20 ekor/koloni) pada perakaran dan pangkal batang. Saat populasi tinggi, hama ini hidup pada pangkal daun dan dasar buah.

Penyebaran penyakit :

  • Jarak jauh: disebarkan oleh benih yang terinfeksi virus atau benih yang terkontaminasi kutu putih.
  • Jarak dekat atau antar tanaman/kebun: akibat perpindahan kutu putih atau vektor, dapat terjadi oleh angin yang menerbangkan nimfa atau oleh migrasi semut api Solenopsis sp. (Hymenoptera: Formicidae) Yang hidup bersimbiose dengan kutu putih D. brevises.

Teknik Pengendalian:

1. Gunakan bahan perbanyakan (benih) sehat, berasal dari induk dan lahan yang sehat (bebas dari penyakit layu dan vektornya yaitu kutu putih (D. brevises).

2. Tidak melakukan penanaman pada lahan yang sudah terkontaminasi berat oleh serangan penyakit layu dan kutu putih (D. brevises).

3. Rendam benih dengan air panas (58°C) selama 40 menit untuk membunuh virus dalam jaringan tanaman.

4. Rendam benih dengan insektisida berbahan aktif organopospat dosis sesuai anjuran selama 30 menit lalu tiriskan. Hal ini bertujuan untuk membunuh kutu putih beserta telurnya dan semut yang terbawa pada benih.

5. Sebelum penanaman, perlakukan tanah media pembibitan dan lahan dengan insektisida berbahan aktif organoposfat dosis sesuai anjuran untuk membunuh hama kutu putih dan semut.

6. Bersihkan lahan dari gulma, karena beberapa gulma dapat menjadi inang alternatif kutu putih.

7. Monitoring secara berkala terhadap gejala serangan penyakit l. Jika ditemukan tanaman bergejala layu segera lakukan eradikasi dengan mencabut dan membakar tanaman tersebut agar tidak terjadi penyebaran ke area yang lebih luas.

8. Lakukan eradikasi masal jika tanaman terserang berat oleh penyakit dan kutu putih D. brevises.

9. Lakukan rotasi dengan tanaman lain jika lahan akan ditanami kembali dengan nanas untuk memutus siklus hidup penyakit dan vektor.

Loading...

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini