Teknologi Budidaya Tembakau Madura Rendah Nikotin dan Tar

0

Unsurtani.com –¬†Areal tembakau madura setiap tahun rata-rata mencapai 61.225 ha dengan produksi 35.271 ton (1999-2002). Produksi tersebut semuanya dimanfaatkan sebagai bahan baku rokok kretek. Harga tembakau madura berkisar antara 10-30 ribu/kg.

Dalam racikan rokok kretek, proporsi tembakau madura sebesar 25-30%, terutama berperan sebagai pemberi aroma. Bagi produsen rokok kretek mutu tinggi merupakan persyaratan utama yang diminta oleh pabrik rokok. Mutu tinggi tersebut akan dihargai tinggi, oleh karena itu hasil dengan mutu tinggi akan meningkatkan pendapatan petani.

Dengan terbitnya PP no.19/2003 yang mengarah pada kandungan nikotin dan tar lebih rendah, Balittas melakukan perbaikan varietas yaitu dengan menyilangkan Prancak-95 dengan tembakau oriental yang sangat aromatis dan berkadar nikotin rendah (<1%).

Perbaikan varietas tersebut telah menghasilkan dua varietas baru, yaitu Prancak N-1 dan Prancak N-2. Kedua varietas tersebut mempunyai mutu lebih baik dan kandungan nikotin masing-masing berkurang 24% dan 13%. Selain itu kedua varietas tersebut juga mewarisi sifat ketahanan terhadap penyakit lanas (Phytophthora nicotianae) dari Prancak-95. Penampilan Prancak N-1 dan Prancak N-2 dibanding Prancak-95 tertera pada tabel berikut:

Varietas Potensi Hasil
(ton/ha)
Indeks
Mutu
Indeks
Tanaman
Nikotin
(%)
Prancak N-1 0,962 62,45 60,07 1,76
Prancak N-2 0,758 68,52 65,07 2,00
Prancak 95 0,804 57,12 45,22 2,31

Teknologi Budidaya

  1. Bibit yang baik,
  2. Pengolahan tanah sebanyak 2 kali, selang waktu pengolahan adalah 7 hari, kemudian dibuat guludan dengan ukuran 150 cm untuk 2 baris tanaman. Diantara guludan dibuat got dengan lebar 30 cm, jarak antar gulud 90 cm dan jarak antar baris 40 cm dan antar tanaman dalam baris 35 cm (jarak tanam 40 x 35 cm), tinggi guludan 15 – 20 cm. Bibit dicabut pada umur 40 – 45 hari. Penanaman dengan cara dicoklak. Sebelum ditanam lubang disiram air, kemudian bibit ditanam dengan meletakkan bibit dalam lubang dan ditutup dengan tanah agak dipadatkan. Penyulaman dilakukan mulai 5 – 10 hari setelah tanam, setelah itu tidak dilakukan penyulaman lagi karena pertumbuhannya akan tertinggal.
  3. Dosis pupuk per Hektar : 200 kg ZA + 100 kg SP-36 + 100 kg ZK + 2,5 ton pupuk kandang.
  4. Waktu aplikasi pupuk: 3 hari sebelum tanam diberi pupuk kandang dan SP-36, 7 – 10 hari setelah tanam dipupuk dengan 100 kg ZA + 100 kg ZK; umur 21 hari dipupuk dengan 100 kg ZA, pupuk diberikan dalam lubang tanam dengan jarak 10 cm dari batang, kemudian ditutup dengan tanah.
  5. Pengairan bibit yang baru ditanam dilaksanakan setiap hari sampai 7 hari setelah tanam, penyiraman dilakukan sore hari, dan volume air penyiraman 1 – 2 liter air/tanaman. Pada waktu tanaman berumur 8 – 25 hari, periode penyiraman diperpanjang 3 – 5 hari sekali. Pada 26 HST, karena tanaman sudah kokoh, dilakukan sedikit stres air yang berguna untuk merangsang pertumbuhan akar sampai pangkas, penyiraman dilakukan 5 – 7 hari sekali pada waktu sore hari. Tidak dilakukan penyiraman lagi pada waktu tanaman sudah berumur 65 hari sampai panen.
  6. Pendangiran dan pembubunan dilakukan paling sedikit 2 kali, yaitu setelah pemupukan ZA pertama dan kedua. Setelah itu masih dapat dilakukan pendangiran, terutama bila terlihat tanah disekitar pangkal batang memadat.
  7. Pangkas dilakukan pada saat 10 % populasi tanaman berbungan dengan membuang calon bunga bersama 3 lembar daun pucuk, pembuangan sirung dilakukan 5 hari sekali. Untuk mencegah sirung dapat menggunakan zat penghambat tunas.
  8. Panen dilakukan serentak, tidak bertahap. Waktunya setelah sebagian besar daun masak, berwarna hijau kekuningan dan ujung daun mengering.
  9. Daun disortasi dan diperam,
  10. Sebelum dirajang, daun ditumpuk 8 – 10 lembar, kemudian digulung. Perajangan dilakukan malam hari, sehingga penjemuran dapat dilakukan sedini mungkin.

Simak juga :

Loading...

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini