Pengendalian Hama Penggerek dan Penyakit Bulai Tanaman Jagung

0

Unsurtani.com – Jagung termasuk komoditas penting di Indonesia, baik sebagai bahan pangan, pakan maupun sebagai bahan industri. Di Kalimantan Barat daerah sentra tanaman jagung terletak di Kabupaten Bengkayang dengan luas 6.897 ha, dan Singkawang dengan luas 699 ha. Salah satu kendala utama dalam budidadaya jagung adalah serangan hama dan penyakit.

Hama yang sering kali merusak tanaman jagung antara lain adalah :

1. Penggerek Batang Jagung (O furnacalis guenee)

Hama ini menyerang semua bagian tanaman jagung pada semua fase pertumbuhan. Kehilangan hasil akibat serangan dapat mencapai 80%. Ngangat aktif pada malam hari dan menghasilkan beberapa generasi pertahun umur ngengat dewasa 7-10 hari.

Larva O furnacalis mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yang di serang yaitu berupa lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan atau pangkal tongkol, batang yang mudah patah.

Secara kultur teknis dapat dilakukan dengan cara :

  • Waktu tanam yang tepat
  • Tumpang sari jagung dengan kedelai atau kacang tanah
  • Pemotongan sebagian bunga jantan (empat dari enam baris tanaman)

Simak juga : Pengendalian Hama Penggerek Batang Jagung (O. furnacalis)

Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklorofos dan karbofuran efektif menekan serangan penggerek batang jagung.

2. Ulat Grayak (Spodoptera litura F)

Ulat ini dapat merusak tanaman jagung berkisar 5 – 50%. Ngengat aktif pada malam hari, sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan. Ulat menyerang pada malam hari, pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab). Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar.

Larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang serentak secara berkelompok, dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun. Serangan umumnya terjadi pada musim kemarau.

Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan cara :

  • Membakar sisa- sisa tanaman pada lahan yang akan digunakan
  • Pengolahan tanah intensif

Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan beberapa insektisida yang cukup efektif mengendalikan ulat grayak adalah monokrotofos, diazinon, klorpiripos, triazofos, diklorofos, sianotenfos dan karbaril. Penggunaannya didasarkan pada hasil pengamatan tanaman contoh. Insektisida diaplikasikan jika intensitas serangan pada pertanaman contoh telah mencapai 12,5 %.

Pengendalian Penyakit Utama Jagung

Penyakit Utama yang biasanya merusak tanaman jagung adalah bulai yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora sp. dan hawar daun yang disebabkan oleh jamur Helminthosporium sp.

1. Bulai (Downy mildew)

Kehilangan hasil jagung akibat penularan penyakit bulai dapat mencapai 100 % pada varietas rentan. Gejala penyakit terlihat adanya warna putih pada permukaan daun sampai kekuningan,
diikuti oleh garis-garis klorotik. Ciri lainnya pada pagi hari di sisi bawah daun terdapat lapisan berbulu halus warna putih yang terdiri atas konidiofor dan konidium jamur.

Penyakit bulai pada jagung menyebabkan gejala sistemik yang meluas ke seluruh bagian tanaman dan menimbulkan gejala lokal (setempat). Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun terinfeksi. Tanaman yang terinfeksi bulai pada umur masih muda umumnya tidak mengahsilkan buah. Bila infeksi terjadi pada tanaman yang sudah tua, buah masih terbentuk tetapi tidak sempurna dan tanaman kerdil.

Pengendalian :

  • Penanaman varietas tahan seperti Sukmaraga, Lagaligo, Srikandi K-1, Lamuru dan Gumarang.
  • Periode bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan di areal pertanaman.
  • Tanam serempak
  • Pemusnahan seluruh bagian tanaman yang terinfeksi penyakit bulai sampai ke akarnya (eradikasi) secara periodik.
  • Penggunaan fungisida metalaksil pada benih jagung (perlakuan benih) dengan dosis 2 gram (0,7 gr bahan aktif) per kg benih.

2. Hawar Daun

Kehilangan hasil jagung akibat infeksi hawar daun mencapai 70 %. Gejala awal, berupa bercak kecil berbentuk oval, kemudian bercak makin memanjang berbentuk elips dan berkembang menjadi nekrotik yang disebut hawar. Warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5 – 15 cm. Bercak muncul pertama kali pada daun terbawah kemudian berkembang ke bagian atas.

Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman cepat mati atau mengering. Cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada daun atau pada sisa tanaman di lapang.

Pengendalian

  • Penanaman varietas tahan seperti Bisma Pioner 2, pioner 14, Semar 2 dan Semar 5.
  • Pemusnahan seluruh bagian tanaman yang terinfeksi bercak daun sampai ke akaranya (eradikasi).
  • Penggunaan fungisida berbahan aktif mancozeb dan dithiocarbamate.

Simak juga : Teknologi Budidaya Jagung Hibrida dilahan Bekas Tambang Batubara

Loading...

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini