Teknologi Budidaya Jagung Hibrida dilahan Bekas Tambang Batubara

0

Unsurtani.com – Secara spesifik, lahan pertanian terpadu di desa Embalut, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan lahan bekas penambangan batubara tanpa top soil dengan solum tanah yang tipis, kesuburan tanah yang rendah serta rawan erosi (run-off), sehingga pemanfaatannya harus dilakukan secara bijak melalui pendekatan Pengelolaan Lahan dan Tanaman Secara Terpadu (Integrated Crop Land Management).

Integrated Crop Land Management (ICLM) adalah suatu metode yang dikembangkan guna meningkatkan kesuburan lahan (optimalisasi lahan) bekas tambang batubara dengan cara mengintegrasikan penggunaan pupuk hayati, kompos atau pupuk kandang, pupuk kimia (an-organik), kapur pertanian serta pestisida ramah lingkungan dalam kegiatan budidaya tanaman pangan (termasuk jagung hibrida) dan hortikultura dilahan yang sub optimal.

A. Pemilihan Varietas Tanam

Jagung hibrida adalah jenis jagung yang diperoleh dan dikembangkan untuk 1 kali proses penanaman (tidak bisa dibenih ulang). Beberapa varietas jagung hibrida yang memiliki adaptasi baik dilahan kering dataran rendah serta memiliki produktivitas tinggi diantaranya adalah Bima 3, 4, 9, dan 14, serta NK22.

B. Persiapan Lahan

Diawali dengan pengendalian gulma secara kimiawi yaitu menyemprotkan herbisida kontak non selektif berbahan aktif Parakuat diklorida (Gramoxone) dan telah bersertifikasi WHO.

Setelah gulma mati, selanjutnya lahan diolah secara mekanisasi (menggunakan hard tractor berotari) guna menggemburkan tanah yang dibarengi dengan penaburan pupuk hayati, pupuk kandang, dan kapur pertanian. Lahan dibiarkan selama 1 minggu sambil dibuat saluran drainase serta pembersihan dari bahan pencemar.

C. Persiapan Benih

Untuk 1 ha diperlukan 25 – 30 kg benih jagung hibrida. Sebelum ditanam, benih jagung dicampur dan diaduk dalam larutan insektisida berbahan aktif tiametoksam (Cruiser) yang berguna mempercepat perkecambahan sekaligus melindungi biji jagung dari serangan serangga.

Sebelum ditanam, benih jagung hibrida yang sudah tercampur dengan larutan cruiser, sebaiknya dikeringkan terlebih dahulu dengan cara diangin-anginkan tanpa terkena sinar matahari secara langsung.

D. Penanaman

Sesuai pandum PTT (Pengelolaan Tanaman terpadu), jarak tanam yang diterapkan adalah 70 x 20 cm (populasi = 71.428/ha). Selanjutnya diterapkan juga pola tanam jajar legowo (80 x 20) x 20 cm dan (60 x 40) x 20 cm sehingga diperoleh 100.000 populasi/ha.

Benih jagung dimasukkan dalam lubang tugalan sebanyak 1 – 2 biji/lubang, kemudian ditutup dengan kompos.

E. Pemeliharaan

Pemupukan dilakukan 1 kali, yakni saat tanaman jagung berumur 7 – 10 setelah tumbuh, dosis 500 kg/ha NPK Pelangi dicampur dengan 50 kg/ha Urea. Pupuk diberikan dengan cara dimasukkan dalam lubang tugalan diantara tanaman jagung sebanyak 1 sendok makan.

Guna memacu pertumbuhan sekaligus memberikan perlindungan dari serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman), tanaman jagung disemprot dengan pestisida berbahan aktif Azoksistrobin (Amistartop) bercampur dengan Lamda silahotrin (Alika). Penyemprotan dilakukan saat tanaman berumur 10, 20, dan 35 HSTb.

Pengendalian gulma dilakukan saat tanaman jagung berumur 2 minggu setelah tumbuh denganc ara penyemprotan herbisida selektif dan khusus untuk tanaman jagung yakni Calaris. Agar tanaman jagung tidak mudah rebah, lakukan pembumbunan yang sekaligus berfungsi sebagai saluran drainase serta pembersihan lahan dari gulma.

F. Panen

Dilakukan saat kelobot jagung sudah mengering (berwarna kopi susu), serta biji jagung sudah cukup keras. Agar panen tongkol kering serempak, maka lakukan pembuangan daun bawah tongkol dan limbah daun dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi atau kambing.

Guna mengetahui tingkat produktivitas, maka dapat dilakukan dengan cara pengambilan tongkol jagung dalam petak ubinan (3 x 3 meter) dilakukan secara acak (random). Sebagai patokan, untuk jarak tanam 70 x 20 cm sebanyak 64 tongkol sedangkan pola rapat legowo (80 x 20) x 20 cm sebanyak 90 tongkol.

Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan selama 2 tahun berturut-turut (4 kali tanam), diperoleh produktivitas jagung (pipilan kering) hasil ubinan sebagai berikut :

  • Jarak tanam 70 x 20 cm = 10-12 ton/ha
  • Jarak tanam (80 x 20) x 20 cm = 14-16 ton/ha

Simak juga : 

Loading...

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini