Pengendalian Penyakit AKAR BENGKAK pada Kubis-kubisan

0

Unsurtani.com – Sudah lama petani dihantui kecemasan atas penyakit akar bengkak yang menyerang tanaman sayuran terutama jenis kubis-kubisan. Petani perlu mengenali karakter penyebab akar bengkak yakni Plasmodiophora brassicae Wor. sehingga dapat menentukan langkah pengendalian secara tepat.

Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), telah menghasilkan pupuk hayati yang bermanfaat untuk mengendalikan P. brassicae dengan kandungan berbahan aktif cendawan Gliocladium sp. dan beberapa bakteri lainnya. Biopestisida tersebut dapat menjadi pilihan petani sebagai solusi pengendalian yang lebih bijaksana, ramah lingkungan, dan aman bagi kesehatan.

Penyakit akar bengkak pada kubis-kubisan (Brassicaceae atau Cruciferae) yang disebabkan oleh mikroba Plasmodiophora brassicae Wor. seringkali menghantui petani sayuran di Indonesia. Pada serangan penyakit yang parah dapat menyebabkan kegagalan panen hingga 100%. Hal tersebut tentunya menyebabkan kerugian besar bagi petani.

Tanaman kubis-kubisan yang terserang penyakit akar bengkak akan menunjukkan gejala layu, kerdil, menguning hingga akhirnya mengering lalu mati. Sedangkan kondisi gejala di bawah permukaan tanah berupa pembengkakan pada akar menyerupai umbi atau gada. Oleh karena itu, petani di Jawa Barat menyebutnya dengan akar beutian atau akar gada karena bentuknya mirip gada. Penyebutan penyakit akar bengkak seringkali juga disebut akar beutian, patek, akar pekuk, atau clubroot, bergantung pada kebiasaan di daerah masing-masing.

Penyakit ini mudah menular dan sulit dikendalikan karena P. brassicae yang tertinggal di dalam tanah dapat membentuk spora istirahat dan akan aktif lagi pada saat penanaman tanaman inang. Bentuk pengendalian yang umumnya dilakukan berupa perlakuan fungisida sintetis meskipun sebagian besar fungisida tersebut tidak teregistrasi di Komisi Pestisida secara khusus sebagai pengendalian akar bengkak. Dengan fungisida, intensitas serangan penyakit dapat berkurang.

Namun demikian, di musim berikutnya adakalanya serangan penyakit menjadi lebih parah. Oleh karena itu, pemerintah menganjurkan untuk mengurangi penggunaan bahan sintetis pada kegiatan pertanian sebagai upaya menyelamatkan alam dan manusia itu sendiri.

Morfologi dan Daur Penyakit Bengkak

Beberapa ahli penyakit tanaman pada tahun 2005 mengungkapkan bahwa P. brassicae tergolong ke dalam cendawan tingkat rendah dari kelas Plasmodiophoramycetes. Bentuk spora bulat atau agak lonjong berukuran 1,6 x 4,3 mikron, tidak berwarna atau hialin (bening). Jika dilihat melalui mikroskop pada besaran maksimal 1.000 x, tampak spora memiliki duri atau rambut pendek. Wadah spora atau disebut sporangium berdiameter 6,0 – 6,5 mikron. Zoospora (spora renang) berdiameter 1,9 – 3,1 mikron dan memiliki flagella (ekor).

Loading...

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini