Panduan Lengkap Budidaya BELIMBING KARANGSARI

0

Unsurtani.com – Belimbing Karangsari merupakan produk unggulan kota Blitar yang sudah berkembang pemasaran buahnya ke beberapa kota besar seperti Surabaya, Malang, Solo, Jakarta dan lain sebagainya.

Pada tahun 1982, berawal dari bibit belimbing pemberian seorang pendatang, Imam Surani, penemu varietas unggul Belimbing Karangsari, yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Tani Margo Mulyo, mencoba menanam bibit tersebut di pekarangan rumah beliau, yaitu di daerah Kelurahan Karangsari, Kota Blitar.

Dan setelah pohon berbuah, ternyata menghasilkan buah yang besar dan manis. Alhasil, beliau pun memutuskan untuk mengembangkan pohon ini untuk mendapat pohon indukan dan membudidayakan belimbing sebagai suatu komoditi.

Pada tahun 2009 populasi tanaman Belimbing Karangsari mencapai 28.000 batang pohon (dimana 90 % dari populasi tersebut berada di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo – Kota Blitar) dengan hasil panen 5.600 ton buah per tahun yang saat ini telah beromzet Rp 22,4 miliar per tahun.

Buah Belimbing Karangsari mempunyai panjang berkisar antara 20 – 21 cm, berlingkar buah antara 30 – 32 cm, dan mempunyai kisaran berat 350 – 600 gram per buah. Selain itu, Belimbing Karangsari memiliki rasa yang lebih manis daripada belimbing varietas non unggulan, ialah Penelitian yang dilakukan oleh Eko Purwanto, yaitu berdasarkan data kuantitatif, gula total pada belimbing manis berkisar 3,5 – 11 gram tiap 100 gram nya.

Hal ini berarti kadar gula pada belimbing (varietas non unggulan) dalam presentase Brix adalah 5-13° brix. Sementara Belimbing Karangsari mempunyai kadar gula 8,68 – 9,27° brix.

Buah Belimbing Karangsari mempunyai kisaran berat 350 – 600 gram per buah. Hal ini menunjukkan bahwa Belimbing Karangsari termasuk belimbing yang berukuran super, jika dibandingkan dengan buah belimbing varietas biasa yang didapat dari database Bappenas, yang mempunyai berat rata-rata 160 gram per buah.

Produktivitas pohon Belimbing Karangsari pun terbilang fantastis, yaitu tiap pohonnya menghasilkan buah yang berbobot 400 – 600 kg per tahun (Data BPTP). Perbedaan ini sangat mencolok jika dibandingkan dengan belimbing varietas non unggulan, yang hanya mampu memproduksi 24 – 48 kg/pohon/tahun.

Bagaimana Budidaya Belimbing Karangsari?

Untuk mendapatkan buah belimbing yang maksimal baik dari segi kualitas dan kuantitas, harus melalui budidaya yang meliputi penanaman, pemeliharaan, dan panen. Proses penanaman bibit Belimbing Karangsari meliputi proses sebagai berikut:

  • Bibit berasal dari perbanyakan vegetatif musim hujan dengan okulasi
  • Lubang tanam 50 x 50 cm dengan kedalaman 60 cm, jarak tanam 4 x 4 meter atau juga bisa menggunakan jarak tanam 6 x 6 meter.
  • Tanah galian lubang dicampur pupuk kandang matang 15 kg/lubang
  • Menanam bibit pada awal musim penghujan

Setelah proses penanaman, dilakukan proses pemeliharaan yang meliputi:

  1. Melakukan penyiraman intensif selama musim kemarau.
  2. Memberikan pupuk NPK sebanyak ¼ kg dan insektisida butiran sebanyak 1 sendok makan pada bibit yang baru ditanam, yang bertujuan untuk membasmi rayap.
  3. Memangkas bagian tanaman yang mati dan rusak atau yang tidak bermanfaat.
  4. Memupuk dengan pupuk kandang dan pupuk NPK sebanyak ¼ kg setelah pemangkasan, dengan cara membenamkan dalam tanah mengelilingi batang pohon tepat di bawah tajuk luar pohon.
  5. Melakukan perawatan belimbing yaitu dengan cara membungkus buah. Buah yang masih pentil segera dibungkus dengan menggunakan kantong plastik.
  6. Melakukan penjarangan buah bersamaan saat pembungkusan buah, yaitu membuang buah yang bentuknya tidak sempurna, tidak sehat, dan letaknya berimpitan.
  7. Memasang atraktan atau metileugenol dengan botol perangkap untuk menghindari lalat buah.
  8. Menjaga tanah agar tetap gembur dengan cara pembubunan tanah.

Proses pemeliharaan yang telah dilakukan selama 1-2 tahun akan menghasilkan buah blimbing yang berkualitas baik, namun pada proses pemanenan hal-hal perlu diperhatikan adalah :

  • Memanen buah belimbing dilakukan dengan cara memetik buah belimbing hati-hati dengan tangan kemudian diletakkan dalam keranjang.
  • Mengumpulkan hasil panen ke pedagang pengumpul dan ditempat pedagang pengumpul
  • Buah yang baik akan dikemas dan siap untuk dipasarkan

Pengendaliam Hama Utama Belimbing Karangsari

Meski Belimbing Karangsari merupakan varietas unggulan, varietas ini juga mempunyai kelemahan, yaitu tidak tahan terhadap lalat buah (Bactrocera dorsalis / Dacus dorsalis). Pernyataan ini ditunjang oleh hasil pemantauan lalat buah yang dilakukan oleh Pusat Karantina Pertanian sejak tahun 1979 / 1980 menunjukkan bahwa lalat buah ditemukan hampir semua wilayah di Indonesia.

Terdapat beberapa teknik untuk mengatasi serangan lalat buah, diantaranya Teknik Jantan Mandul (SIT), umpan protein (BAT), atraktan, pembungkusan (Pembrongkosan), dan insektisida. Dari kelima teknik di atas, yang paling sering digunakan oleh pembubidaya tanaman Belimbing Karangsari adalah teknik pembungkusan dan teknik atraktan, karena dirasa paling ekonomis.

Namun, membungkus buah belimbing pun harus dikakukan secara seksama, yaitu pembungkusan buah dilakukan pada saat buah berada pada stadium pentil (umur 1 bulan dari bunga mekar), walaupun sebenarnya membungkus buah belimbing yang masih pentil memiliki kekurangan, yaitu kapan dimulai pembungkusan tiap varietas yang berbeda, cara pembungkusannya, dan menjadikan warna buah kurang menarik (Balittra Litbang Deptan).

Teknik yang dikombinasikan dengan teknik pembungkusan yaitu teknik atraktan. Atraktan adalah salah satu alat untuk memantau populasi hama dan sekaligus dapat digunakan untuk memantau populasi lalat buah.

Pembudidaya belimbing ini seringkali menggunakan methyl eugenol yang merupakan atraktan bagi bagi lalat buah jantan, dimana zat atraktan tersebut hanya menarik lalat jantan saja, sehingga telur-telur lalat yang diletakkan oleh lalat betina, sehingga tidak akan terjadi pembuahan dan menurunkan intensitas serangan lalat buah.

Loading...

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini