Mengatasi Daun Cabai Menguning Akibat Virus Kuning

0

Unsurtani.comCabai merah (Capsicum annum) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai prospek usahatani yang cukup cerah. Namun sampai saat ini belum mampu dimanfaatkan secara optimal karena salah satu faktor resiko usahatani yang belum dapat dikuasai oleh petani adalah adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Salah satu OPT utama yang biasa menyerang tanaman cabai yaitu penyakit “virus kuning”. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari kelompok “gemini virus” dan ditularkan oleh serangga vektor kutu kebul (Bemisia tabaci). Kerugian akibat penyakit ini pada tahun 2007 mencapai 20 milyar lebih.

Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas, petani, dan pelaku agribisnis cabai dalam penanggulangan penyakit virus kuning, diperlukan penyebaran informasi teknologi pengendalian virus kuning cabai sehingga hasil dapat ditekan.

Penyakit Virus Kuning

Imago Bemisia tabaci berukuran 1-1,5 mm, berwarna putih dengan sayapnya jernih ditutupi lapisan lilin bertepung. Telur lonjong agak lengkung seperti pisang, berwarna kuning terang, panjang 0,2-0,3 mm yang biasanya diletakkan dipermukaan bawah daun pucuk.

Imago biasanya berkelompok pada bagian permukaan bawah daun, dan bila tanaman tersentuh biasanya akan berterbangan seperti kabut atau kebul putih.

Gejala Penyakit

Helai daun mengalami “Vein Clearing”, dimulai dari daun pucuk, berkembang menjadi kuning terang, tulang daun menebal dan daun menggulung keatas (Cupping). Infeksi lanjut menyebabkan daun-daun mengecil dan berwarna kuning terang, tanaman kerdil dan tidak berbuah. Namun, di lapangan tidak semua tanaman cabai menunjukkan warna kuning terang, tergantung jenis varietas, ketinggian tempat dan lingkungan.

Morfologi/Daur Penyakit

Gemini virus termasuk kelompok virus tanaman dengan genom berupa DNA utas tunggal, berbentuk bundar dan terselubung dalam virion ikosahedral kembar (geminate). Penyakit tidak ditularkan melalui biji, tetapi dapat menular melalui penyambungan dan melalui serangga vektor kutu kebul (Bemisia tabaci).

Penularan oleh serangga vektor kutu kebul sangat dipengaruhi oleh lamanya masa akuisisi serangga (makan tanaman sakit untuk memperoleh virus) pada tanaman sakit, jumlah serangga dan lamanya periode inokulasi yang terjadi pada tanaman sehat.

Kutu kebul dapat menularkan Gemini virus secara persisten (tetap; yaitu sekali makan pada tanaman yang mengandung virus, selama hidupnya dapat menularkan virus), dengan periode makan akuisisi 48 jam menghasilkan tingkat penularan yang paling efisien.

Hasil penelitian di rumah kaca, bahwa dengan periode makan akuisisi hanya 1/2 jam menghasilkan serangga vektor yang “viruliferous” (mengandung virus), dan satu ekor serangga tersebut dapat menularkan atau menimbulkan infeksi virus pada tanaman sehat 40%.

Kutu kebul dapat mengakuisisi virus sejak stadia nimfa dan terbawa sampai dewasa (Transtadia), tetapi virusnya tidak terbawa ke stadia telur (non transovarial). Kutu kebul betina efisiensi penularannya lebih tinggi dibandingkan dengan serangga jantan.

Prakiraan perkembangan penyakit di lapangan dapat diikuti melalui banyaknya atau penyebaran sumber inokulum (tanaman inang yang terinfeksi/menunjukkan gejala sakit oleh virus kuning), keadaan populasi vektor, dan stadia serangga vektor kutu kebul yang ada.

Jika dominasi pipulasi serangga adalah stadia dewasa/imago, maka dapat dipastikan arus penyebarannya akan lebih cepat dibandingkan dengan nimfa (mengingat nimfa terutama instar dua dan tiga tidak aktif bergerak selama hidupnya melekap pada bagian bawah daun, karena tidak mempunyai tungkai untuk bergerak).

Tanaman Inang Lain

Kutu kebul merupakan hama sangat polifag menyerang berbagai jenis tanaman, antara lain tanaman hias, sayuran (tomat, cabai rawit, kentang, mentimun, terong, kubis, buncis, selada), buah-buahan (melon, semangka, kabocha), ubi jalar, singkong, kedelai, tembakau, lada, dan tanaman liar/gulma babadotan (Ageratum conyzoides) dan gulma bunga kancing (Gomphrena globosa).

Langkah Pengendalian

A. Persemaian

  • Menggunakan bibit tanaman yang sehat (tidak mengandung virus) atau bukan berasal dari daerah terserang (endemik). Perendaman benih dengan larutan PGPR (Pf dosis 20 ml/liter air selama 6-12 jam).
  • Pengerodongan persemaian cabai dengan kain kasa/nilon guna mencegah kutu kebul masuk kedalam persemaian atau rumah kaca.
  • Untuk pencegahan, selalu lakukan pengawasan, jangan sampai terjadi serangan baru kutu kebul kedalam rumah kasa.

B. Lapangan

  • Menanam pinggiran lahan dengan 6 baris tanaman jagung 2-3 minggu sebelum tanam cabai, dengan jarak tanam rapat 15-20 cm atau tanaman orok-orok.
  • Pemberian pupuk kandang/kompos minimal 20 ton/ha,
  • Rotasi/pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang virus kuning (terutama bukan dari famili solanaceae: tomat, kentang, tembakau, dan famili cucurbitaceae: mentimun). Dilakukan dalam satu hamparan, tidak perorangan, dilakukan serentak tiap satu musim tanam, dan seluas mungkin.
  • Sanitasi lingkungan, mengendalikan gulma berdaun lebar dari jenis babadotan, gulma bunga kancing, dan ciplukan yang dapat menjadi inang virus kuning.
  • Eradikasi tanaman sakit, yaitu tanaman yang menunjukkan gejala segera dicabut dan dimusnahkan, supaya tidak menjadi sumber penularan.
  • Pemasangan perangkap likat kuning sebanyak 40 lembar/ha secara serentak di pertanaman, digantung/dijepit pada kayu/bambu setinggi 30 cm guna mengurangi populasi vektor.
  • Pelepasan parasit nimfa Encarcia formosa sebanyak 5 ekor/tanaman, dan predator M. sexmaculatus.
  • Penyemprotan insektisida efektif yang diijinkan oleh Menteri Pertanian,
  • Pada kondisi populasi vektor rendah, dapat digunakan pestisida nabati dari nimba, tegetes, enceng gondok, rumput laut dan kembang pukul empat.

Simak juga :

Loading...
REVIEW OVERVIEW
Virus Kuning pada Cabai

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini