Cara Mengatasi Penyakit Busuk Pucuk Kelapa (BPK)

0

Unsurtani.comBusuk Pucuk Kelapa (BPK) merupakan penyakit penting pada tanaman kelapa yang menyebabkan kematian tanaman. Tanaman yang terserang penyakit ini tidak dapat disembuhkan, karena patogen merusak bagian titik tumbuh tanaman kelapa.

Saat ini penyakit tersebut menjadi endemik, sehingga sangat meresahkan para petani kelapa. Di indonesia, umumnya penyakit busuk pucuk menyerang tanaman kelapa hibrida PB121 dan kelapa Genjah Kuning Nias (GKN). Kehilangan tanaman yang mati akibat penyakit ini pada kultivat kelapa GKN dapat mencapai 50% setiap tahun.

Penyakit busuk pucuk pada kelapa bukan disebabkan oleh hama, virus, bakteri, nematoda ataupun cendawan. Melainkan disebabkan oleh Phytophthora palmivora yang tergolong dalam Stramenopila atau Chromista. Sepintas bagi orang awam akan sulit membedakan tanaman kelapa yang terserang penyakit BPK, hama Brontispa atau Oryctes.

Kecermatan dan pengalaman lebih tinggi diperlukan untuk dapat membedakan gejala serangan penyakit atau hama pada tanmaan kelapa. Pengenalan dan penentuan gejala dan penyebab sangat penting karena hal ini sangat menentukan tindakan pengendalian yang akan dilakukan.

Gejala Penyakit Busuk Pucuk

Gejala serangan penyakit busuk pucuk dapat dibedakan dari gejala serangan harna Brontispa dan Oryctes. Serangan penyakit busuk pucuk dimulai dari daun tombak. Satu persatu helaian anak daun tombak mulai terkulai dan anak daun yang terkulai akan berubah warna menjadi kuning lalu kuning kecoklatan.

Selanjutnya keseluruhan daun tombak akan patah dan terlepas dari tanaman kelapa. Daun-daun yang berada di bawah daun tombak juga akan terlepas satu demi satu dari tanaman. Apabila anak daun tombak telah terkulai maka hal itu menandakan tanaman kelapa tidak dapat diselamatkan lagi karena bagian titik tumbuh tanaman telah busuk dan hancur.

Jika tanaman ditebang dan dibuka bagian pucuknya akan terlihat jaringan berbecak coklat yang lembek dan berbau busuk. Penyakit BPK umumnya menyerang tanaman yang sudah berbuah. Penyakit busuk pucuk hampir tidak pernah ditemukan pada tanaman muda ataupun bibit kelapa.

Karakteristik Phytophthora palmivora

Nama Phytophthora berasal dari bahasa yunani phyto artinya tanaman dan phthora adalah perusak. Awalnya Phytophthora yang tergolong dalam kelas Oomycetes dimasukkan dalam kelompok cendawan (true fungi), karana Oomycetes memiliki dua jenis flagela pada zoospora maka digolongkan ke dalam kingdom Stramenopila atau Chromista Phytophthora spp. mempunyai ciri-ciri yang istimewa dibandingkan dengan cendawan tingkat tinggi, yaitu dari seluruh kehidupan Phytophthora adalah diploid dan dinding selnya terdiri dari selulosa dan ß 1,3-glucan. Selain itu Phytophthora tahan terhadap antibiotik seperti pimaricin.

Satu tubuh Phytophthora memiliki 4 jenis propagul yang dipergunakan sebagai alat infeksi pada tanaman kelapa, yaitu sporangium, zoospora, klamidospora, dan oospora. Sporangium bersifat mudah lepas dari tangkai dan dapat langsung berkecambah membentuk tabung infeksi. Apabila sporangium pecah banyak zoospora akan keluar berenang dan membentuk sista untuk siap menginfeksi tanaman.

Satu sporangium mengandung 10 – 40 zoospora yang berflagela dan akan dilepaskan apabila diinkubasikan dalam air. Zoospora merupakan salah satu inokulum penting bagi penyebaran penyakit. Selain zoospora dan Sporangium, Phytophthora juga membentuk klamidospora yang terletak di ujung atau di tengah miselium.

Klamidospora merupakan bentuk spora dorman yang mampu bertahan pada lingkungan yang ekstrim. Jika kelembaban dan curah hujan tinggi maka klamidospora akan berkecambah membentuk tabung infeksi. Oospora adalah spora hasil silangan tipe kawin A1 dan A2 yang berbeda sifat dengan tetuanya yang bisa lebih virulen dari tetuanya. Pada keadaan alami, oospora dibentuk pada jaringan berkayu atau sisa-sisa tanaman yang terhindar dari cahaya.

Loading...

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini