Mengenal dan Pengendalian Penyakit Utama Tanaman Jeruk

0

Unsurtani.comBuah jeruk merupakan salah satu buah-buahan yang digemari oleh masyarakat Indonesia, karena rasanya yang segar dan banyak mengandung jenis vitamin, terutama vitamin C dan vitamin A. Di samping itu komoditas buah jeruk dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat, terutama jeruk keprok yang mempunyai nilai ekonomis paling tinggi, tahan agak lama dan mudah menyimpannya.

Buah jeruk selalu tersedia sepanjang tahun, karena tanaman jeruk tidak mengenal musim berbunga yang khusus. Tanaman jeruk dapat ditanam di mana saja, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi.

Meski demikian, tanaman tidak akan selama bertumbuh dengan baik, terkadang tanaman bertumbuh dengan tidak semestinya, ada dua faktor yang menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu yaitu, faktor biotik (protozoa, jamur, bakteri, virus, nematode, dan tumbuhan parasit) dan faktor abiotik (suhu, cahaya, iklim, garam, air, dan unsur hara).

Hama merupakan organisme yang menggangu proses tumbuh kembangnya suatu tanaman. Gangguan terhadap tanaman tidak hanya hama tetapi adapula yang disebut penyakit. Tidak seperti hama, penyakit tidak memakan tumbuhan, tetapi mereka merusak tumbuhan dengan menggangu proses-proses dalam tubuh tanaman sehingga mematikan tanaman.

Setiap tanaman pasti memiliki hama dan penyakit yang mengganggu tumbuh kembangnya tanaman tersebut, begitu pula dengan tanaman jeruk. Ada beberapa PENYAKIT yang sering menyerang tanaman jeruk, diantaranya yaitu:

1. Penyakit Kudis Jeruk (Sphaceloma fawcettii)

Gejala :

  • Timbulnya kudis berupa bercak kasar, menonjol, terdapat pada buah, ranting, dan daun,
  • Pada pembibitan batang bawah, penyakit ini merupakan masalah utama pada musim hujan,
  • Infeksi hanya terbatas pada salah satu permukaan daun saja, biasanya dimulai pada bagian bawah daun,
  • Serangan parah menyebabkan pertumbuhan kerdil dan deformasi titik tumbuh,

Pengendalian :

  • Pemangkasan pemeliharaan secara rutin dapat mengurangi terjadinya penyakit,
  • Apabila diperlukan fungisida, dapat menggunakan fungisida berbahan aktif difenoconazole,

2. Penyakit Kanker Jeruk (Xanthomonas axonupadis pv. citri)

Gejala :

  • Jenis jeruk yang rentan di Indonesia adalah jeruk purut, jeruk nipis dan pamelo, terutama yang tumbuh pada suhu 25-35°C atau pada agrokklimat yang agak panas,
  • Gejala awal berupa bercak-bercak putih pada sisi bawah daun yang selanjutnya warna hijau gelap, kadang-kadang berwarna kuning di sepanjang tepinya. Bagian tengan terbentuk gabus warna coklat. Luka terjadi bagian atas dan bawah daun,

Pengendalian :

  • Kanker jeruk dapat dikendalikan dengan bakterisida berbahan aktif copper dan antibiotika Streptomisin dan Kloromisetin. Penyemprotan hanya perlu dilakukan pada musim hujan sebelum terdapat serangan berat.
  • Pengendalian secara kultur teknis dilakukan dengan cara tidak menanam jenis yang rentan disekitar jenis komersial.

3. Penyakit Blendok atau Diplodia(Botryodiplodia theobromae)

Gejala :

  • Sebutan penyakit Blendok digunakan karena kebanyakan batang dan cabang yang terserang dan bereaksi mengeluarkan blendok.
  • Gejala diplodia basah (Gambar A) ditunjukkan dengan adanya blendok atau gumosis berwarna kuning keemasan pada cabang atau ranting terserang. Pada stadia lanjut, kulit tanaman mengelupas atau bahkan bisa mengakibatkan kematian.
  • Gejala diplodia kering (Gambar B) lebih sulit dikenali pada awal serangan, karena tidak ada blendok yang merupakan reaksi hipersensitif tanaman yang terinfeksi untuk melokalisasi patogen agar tidak berkembang. Pada serangan lanjut atau parah, baru terlihat kulit batang atau cabang mengelupas, kemudian mengering atau bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Pengendalian :

  • Menjaga kebersihan kebun dengan memangkas ranting kering dan cabang yang terserang penyakit, dan ranting pangkasan dibakar atau ditimbun.
  • Menjaga kebersihan alat-alat pertanian : pisau, gunting pangkas, maupaun alat lainnya dengan cara dicuci bersih dan diolesi kapas yang dibasahi alkohol 70% atau clorox 0,5% sebelum dan sesudah digunakan.
  • Penyaputan batang dan ranting dengan bubur California,
  • Fungisida dengan bahan aktif carbendazim + Mancozeb atau Benomyl yang dapat digunakan dengan aplikasi olesan batang atau menggunakan bahan aktif Difenokonazol 250 g/l.

Bubur California

Bahan : 1 kg belerang, 2 kg kapur (CaCo3), 100 gram detergen, 10 liter air bersih.

Cara membuat :

  1. Serbuk belerang direbus sampai larut,
  2. Kapur hidup (Caco3) dilarutkan di wadah terpisah menjadi kapur mati (CaO),
  3. Larutan kapur mati (CaO) dimasukkan kedalam larutan belerang yang sedang mendidih dan campuran kedua bahan dibiarkan mendidih kurang lebih selama 10 menit,
  4. Bubur california yang sudah jadi dibiarkan dingin, dan siap untuk digunakan,

Cara aplikasi :

  • Batang tanaman dibersihkan dahulu dari blendok dan kulit kering yang mengelupas dengan cara disikat,
  • Bagian endapan (kuning) dan larutan encer (merah) diaduk, kemudian dilaburkan pada batang tanaman minimal umur 2 tahun, dilakukan dua kali setahun yaitu awal dan akhir musim hujan,
  • Bagian larutan encer (merah) dapat disemprotkan pada pohon untuk pengendalian penyakit jamur daun (embun jelaga, midew, antraknosam dan lainnya). Gunakan larutan dengan dosis 15 ml/liter air.

4. Penyakit Huanglongbing (HLB) atau CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration)

Penyakit CVPD atau sering disebut greening kini namanya secara internasional telah dibakukan menjadi “Huang Lung Bin” atau kira-kira berarti penyakit yang menyebabkan daun berwarna kuning.

Penyakit ini disebabkan oleh suatu bakteri perusak jaringan phloem yang tidak dapat dikulturkan disebut Liberobacter asiaticum dan berbeda dengan yang berkembang di benua Afrika yaitu Liberobacter africanum. Penyakit ini terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

Gejala :

  • Gejala awal serangan penyakit Huanglongbin dapat dikenali dengan adanya blotching/motling, yaitu warna kuning pada daun yang tidak dibatasi oleh tulang daun dan biasanya tidak simetris seperti yang ditunjukkan oleh daun yang mengalami defisiensi unsur.
  • Warna kuning tersebut tembus ke bagian belakang daun, sehingga untuk mengamati daun yang terserang Huanglongbin, permukaan bagian daun bersih dari serangan hama penyakit.
  • Pada gejala selanjutnya dapat mengakibatkan pertumbuhan daun terhambat yang ditunjukkan oleh daun mengecil, relatif kaku, runcing dan menghadap keatas. Pola pertunasan pohon terinfeksi Huanglongbin biasanya cenderung lebih sering.
  • Buah dari pohon yang terserang Huanglongbin, jika dibelah dari ujung atas ke bawah nampak bagian buah yang tidak simetris (lop-sided) dan bijinya abortus, tidak bernas dan salah satu ujungnya berwarna coklat.
  • Penyakit Huanglongbin ditularkan oleh kutu loncat Diaphorina citri Kuw. dan benih yang telah terinfeksi penyakit ini. Serangga penular ini menyerang kuncup daun dan tunas-tunas muda, dan mengakibatkan tunas menjadi keriting dan pertumbuhannya terhambat.
  • Serangga penular Huanglongbin ini menjadi lebih aktif pada suhu tinggi (dataran rendah) dibanding pada suhu rendah (dataran tinggi). Tanaman inang kutu loncat ini adalah kemuning (Muraya peniculata) dan dari famili Rutaceae.

Pengendalian :

Pengendalian penyakit Huanglongbin yang dikenal dengan teknologi Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS) yang menuntut kedisiplinan petani dalam menerapkannya secara utuh dan serentak.

PTKJS terdiri dari 5 komponen teknologi, yaitu :

  1. Menggunakan benih jeruk sehat berlabel biru yang bebas Huanglongbin dan penyakit virus lainnya,
  2. Mengendalikan serangan penular/kutu loncat/vektor Huanglongbin, Diaphorina citri dapat dikendalikan dengan cara penyaputan batang dengan menggunakan insektisida sistemik murni berbahan aktif imidakloprid atau lainnya,
  3. Sanitasi kebun dengan mengeradikasi tanaman jeruk yang terserang penyakit Huanglongbin,
  4. Memelihara tanaman jeruk di kebun secara optimal, meliputi pemupukan, penyiraman, pemangkasan bentuk dan pemeliharaan, penjarangan buah dan pengendalian hama penyakit penting lainnya.
  5. Diterapkan di seluruh kawasan agribisnis jeruk melalui Kelompok Taninya sebagai unit terkecil pembinaan,
Loading...

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini