Pengendalian Hama Belalang Pedang pada Tanaman Kelapa

0

Unsurtani.com – Ada 3 spesies belalang Sexava spp. yang biasa menyerang tanaman kelapa, yaitu : Sexava coriacea Linnaeus, Sexava nubila Stal dan Sexava karnyi Leemans. Namun, Sexava nubila Stal dan Sexava coriacea Linnaeus dua spesies ini yang banyak menyebabkan kerusakan pada tanaman kelapa.

Hama Belalang Pedang ini selain menyerang daun, dapat juga merusak bunga dan buah muda, sehingga secara langsung dapat menurunkan produksi kelapa dan pada serangan berat dapat menyebabkan kematian tanaman kelapa.

Hama Belalang Pedang menyebabkan kerusakan tanaman kelapa yang serius di wilayah Indonesia Timur, terutama di Kepulauan Sangihe dan Talaud Sulawesi Utara, Maluku, Papua.

Hama Belalang Pedang merupakan serangga polifag karena selain menyerang tanaman kelapa juga menyerang tanaman inang lainnya seperti tanaman pinang, enau, sagu, salak, pisang, jambu air, pandan, dll.

Berdasarkan pada program pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan maka untuk pengendalian serangan hama belalang pemerintah telah menerapkan dan mengembangkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Penerapan PHT merupakan salah satu solusi yang tepat untuk mengendalikan hama belalang.

Pengenalan

Pemahaman biologi dan ekologi hama Belalang Pedang sangat diperlukan karena dapat membantu dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pengendalian yang efektif dan efisien. Dalam perkembangannya hama Belalang Pedang mengalami metamorfosis bertingkat, terdiri 3 stadia, yaitu : telur – nimfa – imago.

Gambar 1. a) nimfa, b) imago jantan, c) imago betina

Aktivitas makan dan reproduksi kebanyakan dilakukan pada malam hari. Imago biasanya mulai bertelur setelag berumur kurang lebih 1 bulan. Imago bertelur didalam tanah di sekitar tanaman kelapa dan pohon inang lainnya pada kedalaman 1-5 cm. Seekor betina dapat bertelur sekitar 50 butir. Siklus hidup dari telur sampai bertelur lagi kurang lebih 5 bulan.

Gejala Serangan

Gambar 2. Serangan belalang pedang pada daun kelapa

Nimfa dan imago hama Belalang Pedang memakan daun tanaman kelapa dari pinggir, meninggalkan bekas gigitan yang tidak rata. Serangan dimulai dari pelepah yang paling bawah sebelum daun di bagian bawah habis dimakan maka hama belalang pedang ini tidak akan pindah ke daun sebelah atasnya.

Pada serangan berat yang tertinggal hanya beberapa pelepah pucuk, sedangkan daun-daun di bagian bawah tinggal lidinya saja, sehingga tanaman kelapa tidak dapat menghasilkan buah selama 1-2 tahun.

Pengendalian

Pengendalian hama belalang dilakukan dengan menerapkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Tujuannya adalah agar kualitas dan kuantitas produksi tetap tinggi, kesejahteraan petani meningkat, populasi hama tetap dapat ditekan pada ambang yang secara ekonomi tidak merugikan, dan kualitas lingkungan hidup terjamin. Komponen PHT antara lain, yaitu :

1. Sanitasi Kebun dan Penanaman Tanaman Sela

Membersihkan gulma, pembakaran sampah dan pengolahan tanah disekitar tanaman kelapa. Penanaman tanaman sela seperti : kacang tanah, jagung, dll.

2. Diversifikasi

Menanam tanaman dengan tanaman tahunan lainnya di antara tanaman kelapa, seperti : tanaman pala, cengkeh, kakao, kopi, dll.

3. Secara Hayati

Pengenalian secara hayati dengan pelepasan telur Belalang Pedang yang telah terparasit oleh Leefmansia bicolor. Pelepasan telur belalang yang terinfeksi diperlukan sekitar 25 butir telur terinfeksi per Ha. Telur terinfeksi dimasukkan kedalam koker (semacam kotak kecil) yang terbuat dari pelepah kelapa diletakkan di sekitar batang bawah tanaman kelapa.

Pengendalian hayati dapat pula dilakukan dengan penyemprotan jamur Metarrhizium anisopliae var anisopliae. Jamur ini biasa disebut juga bioinsektisida.

4. Penggunaan Lem Perangkap

Mengoleskan lem perangkap pada permukaan lingkar batang bagian bawah kurang lebih 1 meter dari permukaan tanah. Lem yang digunakan biasanya adalah lem lalat dan Tangle foot.

5. Secara Kimiawi

Insektisida yang digunakan antara lain yang berbahan aktif asepat, diazinon dan karbosulfan dosis 10-15 ml/pohon. Aplikasi insektisida sistemik dengan cara injeksi batang atau infus akar, sedangkan yang insektisida kontak dengan penyemprotan.

Pohon yang diaplikasi insektisida, buahnya tidak boleh dikonsumsi selama 2 bulan, atau buah yang sudah layak dikonsumsi agar dipanen terlebih dahulu.

Penggunaan insektisida melalui injeksi batang dan infus akar masih lebih aman dibandingkan dengan penyemprotan. Penggunaan insektisida secara terus menerus tentunya tidak baik, karena mempunyai efek samping yang merugikan terhadap lingkungan. Penggunaan insektisida disarankan sebagai alternatid terakhir dalam pengendalian hama.

Demikian informasi mengenai “Pengendalian Hama Belalang Pedang pada Tanaman Kelapa” semoga artikel ini bermanfaat bagi sobatani sekalian. Jangan lupa share artikel ini jika bermanfaat dan beri komentar pada kolom bagian bawah. Terima kasih.

Simak juga :

Loading...

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini