Pengendalian Hama Kumbang Sagu (Rhynchophorus ferrugineus Olivier) pada Tanaman Kelapa

0

Unsurtani.comKumbang sagu, Rhynchophorus ferrugineus Olivier (Coleoptera; Curculionidae) merupakan hama pada tanaman kelapa. Di lapangan, kumbang sagu biasanya merupakan hama sekunder, namun di beberapa tempat ditemukan sebagai hama utama.

Hama ini menyerang bagian batang atau titik tumbuh tanaman kelapa yang telah terserang Oryctes rhinoceros atau masuk melalui luka mekanis seperti bekas pemotongan pelepah. Tingkat kerusakan akibat serangan kumbang sagu dapat mencapai 100% yang menyebabkan kamatian tanaman.

Biologi

Siklus hidup kumbang sagu sebagai berikut: telur – larva – pupa – imago. Imago betina meletakkan telur pada lubang gerekan yang dibuat oleh imago betina atau lubang bekas gerekan O. rhinoceros.

Gambar 1. Siklus hidup Kumbang Sagu (Rhynchophorus ferrugineus Olivier)

Imago betina dapat menghasilkan 76 – 355 butir telur. Ukuran telur rata-rata 2,6 mm. Tubuh larva berwarna putih, berbulu sangat pendek dan jarang, sedangkan kepala berwarna merah kekuning-kuningan, tidak memiliki mata dan kaki.

Larva dewasa rata-rata berukuran 50 mm. Pupa diselimuti oleh kokon berbentuk oval, pada awalnya pupa berwarna kuning-putih, kemudian menjadi coklat. Pupa terletak didalam jaringan tanaman.

Imago memiliki bentuk mulut yang panjang seperti belalai, pada kumbang jantan berbentuk lurus, sedangkan pada kumbang betina agak bengkok ke bawah. Panjang imago jantan 3 – 4 cm dan panjang imago betina 3,4 – 4,6 cm. Imago aktif pada siang dan malam hari.

Tanaman Inang

Tanaman yang menjadi inang kumbang sagu adalah sagu, kelapa sawit, aren, pinang dan enau.

Gejala Serangan

Larva merupakan stadia yang merusak tanaman dengan cara membuat gerekan pada batang atau pucuk kelapa untuk mencari jaringan-jaringan muda yang banyak mengandung air. Pada tanaman muda, larva dapat merusak akar, batang dan pucuk, sedangkan pada tanaman dewasa hanya bagian pucuk saja yang diserang.

Gambar 2. Serangan Kumbang Sagu (Rhynchophorus ferrugineus Olivier) pada tanaman Kelapa

Gerekan pada pucuk dapat mengakibatkan patah pucuk dan bila mencapai titik tumbuh akan berakibat fatal, karena tanaman tidak dapat menghasilkan daun baru.

Gerekan pada batang mengakibatkan kerusakan pada tanaman. Dari liang gerekan keluar sisa-sisa serat dan kotoran, pada tanaman muda sering keluar lendir merah coklat.

Pengendalian

Sanitasi

Serangan kumbang sagu sering kali merupakan kelanjutan serangan O. rhinoceros, oleh karena itu serangan O. rhinoceros harus dihindari. Membersihkan kebun dan memotong serta memusnahkan pohon kelapa yang sudah mati agar tidak menjadi sumber infeksi.

Waktu memangkas daun, tinggalkan pangkal pelepah sepanjang 30 cm atau membiarkan pelepah itu menjadi kering sebelum dirontokkan.

Pemanfaatan Musuh Alami

Parasitoid Scolia erratica merupakan musuh alami pada stadia larva. Parasitoid ini ditemukan di pulau Jawa. Heterorhabditis indicus, Steinernema riobrave dan S. carpocapsae, ketiganya merupakan nematoda entomopatogen pada stadia larva dan imago.

Nematoda Heterorhabditis indicus telah ditemukan di daerah Jawa, Ambon, Bali dan Seram yang umumnya menyukai habitat pantai. Sedangkan S. riobrave dan S. carpocapsae ditemukan di India.

Pemerangkapan

Batang sagu dapat digunakan untuk menarik kumbang atau dengan menggunakan feromon sex.

Pengendalian Kimiawi

Dengan menggunakan insektisida berbahan aktif kabofuran. Aplikasi insektisida dengan cara dimasukkan kedalam kain kasa dan digantung diatas pohon kelapa, jika terkena tetesan air hujan diharapkan insektisida dapat menyebar dan mengenai sasaran. Insektisida lain yang dapat digunakan yaitu berbahan aktif diazinon 10% dan karbaril 85%.

Simak juga :

Sumber: Ditjenbun (2009)

Loading...

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini