Panduan Lengkap Cara Budidaya Pare (Paria)

0

Kabartani.comPare atau paria (Momordica charantia L.) merupakan tanaman sayuran tahunan, termasuk dalam famili Cucurbitaceae. Ada 2 (dua) tipe kultivar yang penting, yaitu kultivar yang menghasilkan buah yang meruncing pada ujungnya, dan kultivar yang menghasilkan buah yang tidak meruncing.

Buah pare merupakan sumber vitamin C yang baik, vitamin A, Fosfor dan Besi. Ujung batang pare merupakan sumber pro-vit A yang baik, protein, tiamin dan vitamin C.

Dalam budidaya Pare ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:

Syarat Tumbuh

Pare cocok dibudidayakan di daerah dengan ketinggian 1 – 1000 m dpl dengan pH tanah optimum 5 – 6. Tanaman ini dapat beradaptasi dengan baik pada tanah lempung berpasir dengan drainase baik dan kaya bahan organik. Suhu optimum untuk pertumbuhannya berkisar antara 24 – 27°C.

Persiapan Benih

Gambar 1. Macam jenis benih pare

Kebutuhan benih sekitar 5 – 7 kg/ha diperlukan untuk mencapai populasi tanaman 13.000 – 17.000 tanaman per hektar.

Persiapan Lahan

Gambar 2. Pengolahan lahan dan pembuatan bedengan

Pare biasanya ditanam diatas bedengan yang berukuran lebar 1.5 – 2.5 m, panjang disesuaikan dengan kondisi lahan, tinggi 20 cm pada musim kemarau dan 30 cm pada musim hujan. Jarak tanam yang umum digunakan 75 x 75 cm, atau 100 x 100 cm, atau 45 – 60 cm dalam barisan dan 120 – 150 cm antar barisan.

Gambar 3. Pembuatan para-para tempat rambatan tanaman pare

Dalam satu bedengan terdapat dua baris tanaman. Jarak tanam yang lebar digunakan untuk tempat para-para rambatan. Pupuk kandang diberikan bersamaan dengan pengolahan lahan sebanyak 10-15 ton/ha dengan cara dicampur merata dengan tanah atau dengan menempatkan pupuk di lubang tanam yang telah ditentukan.

Penanaman Benih

Penanaman dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu dengan ditanam langsung dan dengan disemai terlebih dahulu. Penanaman langsung lebih umum digunakan, terutama pada musih hujan.

Lubang tanam dibuat sesuai jarak tanam yang digunakan. Benih sebanyak 2 atau 3 biji ditanam dalam setiap lubang sedalam 2 – 3 cm. Kecambah umumnya muncul setelah 1 minggu. Setelah tanaman mempunyai 4 daun sejati, sisakan satu tanaman yang sehat pada tiap lubang tanam.

Penanaman tidak langsung atau dengan disemai dahulu biasanya dilakukan pada musim kemarau atau jika jumlah benih yang dimiliki terbatas. Hal tersebut untuk mengurangi kematian bibit dilahan. Media semai berupa campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Benih ditanam dengan jarak 2 x 2 cm.

Setelah berumur kurang lebih 10 hari, bibit dipindahkan ke bumbungan daun pisang. Bibit siap ditanam di lahan setelah berumur kurang lebih 3 minggu setelah semai atau mempunyai 3 – 4 helai daun.

Pemupukan

Pemupukan susulan pertama diberikan pada saat tanaaman berumur 3 minggu. Pemupukan susulan dilakukan dengan interval 2 minggu sampai tanaman berumur 4 bulan. Pupuk susulan berupa NPK (15:15:15) 5 – 10 g/tanaman diberikan dengan cara dimasukkan kedalam lubang berjarak 10 cm dari tanaman.

Pemeliharaan

Penyiangan dilakukan rutin seminggu sekali bersamaan dengan pembumbunan. Untuk mengendalikan gulma dapat juga digunakan mulsa. Tanaman pare tidak tahan kekeringan, sehingga pada musim kemara penyiraman sebaiknya dilakukan setiap hari.

Pembuatan parit di sekeliling guludan sangat diperlukan untuk mengurangi genangan air. Hal ini dilakukan pada musim penghujan. Pare memerlukan penopang atau rambatan untuk meningkatkan produksi buah, mengurangi busuk buah serta memudahkan pengendalian OPT dan pemanenan.

Rambatan diberikan saat tanaman berumur 3 minggu. Rambatan dapat berupa ajir, teralis dan tunnel setinggi 1.5 – 2 m. Pemangkasan dilakukan untuk membuang cabang samping yang tidak produktif, dilakukan pada saat tanaman berumur 3 dan 6 minggu.

Pengendalian OPT

Serangan hama dan penyakit jarang ditemukan apabila kondisi tanaman terawat dengan baik. Hama yang banyak ditemukan adalah lalat buah, Epilachna sp., kutu daun, thrips, tungau dan siput.

Pengendalian lalat buah dilakukan dengan pembungkusan buah menggunakan kertas saat buah masih kecil (panjang 2 – 3 cm) dan penggunaan perangkap.

Penyakit umum ditemukan berupa embun tepung, layu bakteri, layu fusarium, serkospora dan virus (CMV). Pengendalian dilakukan dengan mencabut tanaman yang layu atau menggunakan fungisida secara selektif.

Panen dan Pascapanen

Gambar 4. Pemanenan tanaman pare

Panen buah konsumsi dilakukan saat buah masih belum terlalu tua, bintil dan keriputnya masih rapat. Panen sebaiknya menggunakan pisau yang tajam. Panen untuk benih dilakukan pada buah yang sudah matang, berwarna kuning dan pembungkus bijinya berwarna merah.

Pare dapat dipanen pada umur sekitar 55 hari setelah tanam. Panen dapat dilakukan berkali-kali untuk merangsang pembentukan buah baru. Adanya buah cenderung dapat menghambat pembungaan.

Produksi buah dapat mencapai 10 – 20 buah/tanaman atau 10 – 15 ton/ha. Sortasi untuk memisahkan buah yang rusak dan berpenyakit sangat diperlukan untuk menjaga kualitas panenan.

Buah pare tidah tahan lama sehingga sebaiknya segera dipasarkan setelah panen. Penyimpanan pada suhu 12 – 13°C dan kelembaban 85 – 90% dapat menjaga kualitas buah selama 2 – 3 minggu.

Simak juga:

Loading...

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini